Tampilkan postingan dengan label fanfiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fanfiction. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 April 2011

Microblogging Twitter

MICROBLOGGING TWITTER

Disclaimer : Not own Supernatural, and either Twitter

Genre : Humor

Rating : T

A/N : hahaha.. abis baca fanfic versi Twitter jadi pengen buat satu. hehehehe.. so, ini kayak kalian lagi baca tweet2an aja.. formatnya aku buat semirip mungkin ma twitter.

so, read it and have fun gurlz. hehehe ^.^ maap kalo antik banget. abis, gak kepikiran ide2nya

*SELF INSERT*

samwinchester I swear I’m gonna kill @deanzeppsw – two hours ago

deanzeppsw what dude?? RT @samwinchester – two hours ago

angelofthelord Oh screw you God! I dont know how to use Twitter!! – two hours ago

samwinchester you browsed porn on my laptop again @deanzeppsw – two hours ago

samwincehster RT @angelofthelord oh screw you God! I dont know how to use Twitter!! – two hours ago

deanzeppsw @samwinchester oh com’on sam!! cass asked me what porn is – two hours ago

deanzeppsw Hahaha!! sounds silly Cass! RT @angelofthelord Oh screw you God! I dont know (cont.) – two hours ago

samwinchester @deanzeppsw i never imagine its all about @angelofthelord or maybe its all yours!! – two hours ago

deanzeppsw @samwinchester i swear, its cass’ you can ask him – two hours ago

samwinchester @deanzeppsw okay i’ll ask him, but if he said it was yours, you will see – two hours ago

deanzeppsw @samwinchester see what?? – two hours ago

samwinchester oh shit! i hate being in fight with him!! – two hours ago

deanzeppsw who is him? RT @samwinchester – two hours ago

samwinchester @deanzeppsw nobody!! burn yourself – two hours ago

deanzeppsw @samwinchester could it be me, sweetie? *ROFL* – two hours ago

samwinchester @deanzeppsw not you silly goose!! YOUR SHIT ASS – two hours ago

deanzeppsw @samwinchester my shit ass?? oh god! you miss my ass!! – two hours ago

deanzeppsw just caught that my lil bro, @samwinchester miss my ass!! – two hours ago

samwinchester i swear i’ll kill you dude!! RT @deanzepps just caught that my lil bro (cont.) – two hours ago

deanzeppsw i better run, my bro @samwinchester gonna kill me – two hours ago

angelofthelord what is RT for? Twitter more difficult than safe the world. – one hour ago

angelofthelord @deanzeppsw sounds silly why? i dont know what is twitter. – one hour ago

angelofthelord @samwinchester what is mine and what is dean’s? – one hour ago

samwinchester about the porn? whose idea? RT @angelofthelord what is mine and what is dean’s? – one hour ago

deanzeppsw @samwinchester its not my fault! @angelofthelord asked me! – one hour ago

samwinchester @deanzeppsw @angelofthelord better its not your fault dean. – one hour ago

angelofthelord @samwinchester oh, porn. yes i asked @deanzeppsw eww! its like a bare meat – one hour ago

deanzepps *ROFLMAO* RT@angelofthelord @samwinchester oh porn. yes i asked @deanzeppsw (cont.) – one hour ago

angelofthelord @deanzeppsw what is RT mean and what for? RFLMAO? – one hour ago

deanzepps @angelofthelord RT is mean Retweet. To re tweeting someone else tweets. – one hour ago

angelofthelord @deanzeppsw so what is ROFLMAO? – one hour ago

deanzeppsw @angelofthelord Rolling On the Floor Laughing until My Ass Off. You silly ass – one hour ago

angelofthelord Twitter is really difficult to learn! – one hour ago

deanzeppsw hahaha! you suck cass! RT @angelofthelord Twitter is really difficult to learn – one hour ago

angelofthelord @deanzeppsw but its really dean – one hour ago

deanzeppsw @angelofthelord i have taught you for many times cass – one hour ago

angelofthelord @deanzeppsw but, why dont we just talk to each other for now? – one hour ago

deanzeppsw @angelofthelord what that mean? – 58 minutes ago

angelofthelord @deanzeppsw i mean, we just few meters differences. talk is way easier – 50 minutes ago

deanzeppsw @angelofthelord com’on cass!! be cool! everyone use twitter!! – 50 minutes ago

angelofthelord @deanzeppsw who’s for example? none of angel use this – 46 minutes ago

deanzeppsw @angelofthelord whose said? lucifer has one >> follow him @dontcallmelucy – 46 minutes ago

angelofthelord @deanzeppsw follow? no!! – 43 minutes ago

deanzeppsw @angelofthelord i mean on twitter silly! like i used to taught you to follow me. – 43 minutes ago

dontcallmelucy @deanzepps @angelofhelord WHAT?? – 43 minutes ago

deanzeppsw @dontcallmelucy oh nothing @angelofthelord is a silly ass – 42 minutes ago

angelofthelord @deanzeppsw @dontcallmelucy i’m not a silly ass – 29 minutes ago

dontcallmelucy @angelofthelord @deanzeppsw oh come on!!!!! – 28 minutes ago

angelofhelord @dontcallmelucy @deanzeppsw keep your both fu***ng mouth off – 15 minutes ago

deanzeppsw @angelofthelord hahaha!! you started it cass, not me – 15 minutes ago

dontcallmelucy take a day off to destroy the world, Winchesters and their puppy angel made my side hurt *LMAO* – 14 minutes ago

angelofthelord @dontcallmelucy oh darn you lucifer! who is the puppy angel? – 10 minutes ago

dontcallmelucy @angelofthelord hmm…you – 10 minutes ago

angelofhelord @dontccallmelucy hah! you are an ass butt! – 5 minutes ago

deanzeppsw okay tweeps, off to bed. – 5 minutes ago

samwinchester good night dean, me too RT @deanzeppsw okay tweeps, off to bed – 5 minutes ago

deanzeppsw @samwinchester okkie dokkie – 4 minutes ago

dontcallmelucy bye RT @deanzeppsw okay tweeps, off to bed – 4 minutes ago

deanzeppsw @dontcallmelucy bye lucy – 4 minutes ago

dontcallmelucy @deanzeppsw dont you see my name? dont even call me lucy!! call me LUCE!! – 3 minutes ago

deanzeppsw @dontcallmelucy okay okay.. be calm, luce. – 3 minutes ago

angelofthelord @deanzeppsw see you in morning dean :’> – 2 minutes ago

deanzeppsw @angelofthelord bye casss – 2 minutes ago

…..

stephwinchester @deanzeppsw bye dean :P :P – 1 minutes ago

stephwinchester @deanzeppsw @dontcallmelucy @samwinchester @angelofthelord follow back me!!!! – less than a minute

stephwinchester HAHAHaHA! dapet hiburan tengah malem #supernatural #deanw #castiel #sammyw – 2 seconds ago

……

One Day at Thursday Night

One Day at Thursday Night

Disclaimer : Not own Supernatural.

Rating : K+

Genre : Humor

A/N : Parahnya karena WorldCup, aku jadi tidur pagi (jam 5) dan selalu bangun siang (kisaran jam 11) jadi nggak bisa ngumpulin ide dan ngetik di komputer. So, aku selalu maksa dapet ide yang selalu muncul tepat 00.00 dengan kondisi males nulis di kertas. Jadinya kagak pernah ngeluarin FF sama sekali. Dan FF ini baru saja di tulis dengan tingkat kemalasan tertinggi, pada hari kamis 1 Juli 2010 pada pukul 00:04 WIB semalam.
Jadi maap kalo agak aneh dan nggak lucu.
hehehehe.. maklum mata masih ngantuk.. o.o
PS: Hahahahaha.. Yang dihadapin sama Dean alias sindrom malas melakukan apa – apa terjadi padaku tadi malam. wkwkwkwkkwk ^.^

Dean duduk malas di sebuah kursi kayu di motelnya dengan dua botol Jack Danniel’s di atas meja kayu di depannya. Diiringi dengan beberapa gelas kecil nan kosong di atas meja.

“Dean, kau yakin kau baik – baik saja?”

“Entahlah. Aku sedang bosan.” kata Dean sambil memutar – mutar gelas yang terisi seperempatnya saja itu.

Sam tertawa renyah, serenyah kerupuk udang.

“Baru kali ini aku mendengar kau bosan, dude.”

“Aku serius.”

“Aku juga.” timpal Sam kemudian sedikit terkekeh.

Dean menoleh kepada Sam yang ada di belakangnya dan melotot pada adiknya itu. Dean sebal.

“Ada apa?” tanya Sam tanpa wajah bersalah dan tanpa nada bersalah.

“Apa?”

“Kau terlihat benar – benar bad mood, Dean.” sahut Sam.

“Aku memang sedang tidak mood melakukan apa – apa. Malas bergerak.” kata Dean.

Hah! Pernyataan bodoh! Pikir Sam.

“Masa?” goda Sam.

“Benar.” kata Dean sedikit sebal sambil mengangguk pasti.

“Tidak tertarik untuk makan?”

“Tidak.” jawab Dean hambar tanpa garam.

“Padahal aku mau pesan super combo bacon cheeseburger, pai apel dan pai ayam, calamari dan terakhir kentang wedges serta diet coke.”

Dean hanya menggeleng.

“Sudah malam, tidak ingin makan.”

Sam melonjak kaget dari tempatnya duduk. Sejak kapan Dean Winchester menolak makan? Apalagi untuk si bacon cheeseburger. Bahkan kalau ada antrian GRATIS bacon cheeseburger sepanjang antrian minyak tanah di Indonesia, Sam yakin Dean akan tetap mengantri demi sebongkah bacon cheeseburger itu.

“Kau yakin?” tanya Sam dengan nada tidak percaya.

“Aku yakin Sammy.” kata Dean lagi sambil memberi anggukan yang meyakinkan.

“Hmm… okay, tidak selera makan. Bagaimana kalau kita ke bar saja? Ocean Blues Night menampilkan tarian striptease malam ini.”

“Tidak.” jawab Dean tanpa nada.

“Apa??!!!” tanya Sam lebih terlihat kaget daripada bertanya.

“Kenapa?” tanya Dean santai.

“Kau tidak tertarik pada Cameron? Malam ini dia yang akan menari.”

“Tidak.” jawab Dean lagi.

Sam segera berjalan ke arah Dean yang asik memainkan gelas kecil itu sambil memutar – mutarnya. Sam mengambil kursi kayu lain, kemudian duduk di samping Dean.

“Apa?” tanya Dean. Dia sedikit kaget dengan kehadiran Sam yang nyaris tanpa suara itu.

Sam tidak menghiraukan Dean. Dia malah mengulurkan lengannya dan meletakkan telapak tangannya ke kening Dean. Satu hal, Dean tidak sedang demam. Apa dia terkena gangguan otak?

“Aku tidak sakit bodoh.” kata Dean sambil menampis tangan Sam yang masih di keningnya itu.

“Kalau kau tidak menolak Cameron tadi, mungkin aku berpikir kau masih sehat, dude. Tapi kau menolak Cameron. Cewek dengan rambut gelap OBN yang seksi dengan dada super besar itu? Yang benar saja! Minggu lalu saja kau sempat tidak pulang selama dua hari karena mengencani gadis itu!”

Dean memutar bola matanya.

“Memangnya kenapa? Aku sekarang dalam fase-malas-untuk-melakukan-seks.” kata Dean sambil mendiktekan setiap suku kata kalimatnya kepada Sam.

“Hah! Fase-malas-untuk-melakukan-seks? Mana ada yang seperti itu?? Tapi kau Dean Winchester! Dan kakakku yang kukenal, seumur hidupnya tidak pernah menolak yang namanya perempuan!”

“Berarti aku harus masuk Guiness Book.”

“Dean!”

“Apa?”

“Aku tidak bercanda!”

“Aku juga Sammy.”

Sam hanya diam, hatinya dongkol.

“Memangnya tidak ada perburuan kah hari ini?”

“Tidak ada Dean.” jawab Sam malas.

“Phhfft.. Pantas hari ini membosankan.”

“Lagipula, ini kan jam 11 malam, Dean.”

“Setan kan tidak punya jam dinding Sammy.” kata Dean.

Sam hanya bisa mengerucutkan bibir. Apa kakaknya terlalu mabuk?

“Aaaaahh.. bosan.” kata Dean kemudian menguap.

“Hmm.. bagaimana kalau berkeliling kota dengan Impala? Kau bisa menyalakan Metallica, AC/DC, Zepps, atau apalah itu sekeras mungkin.”

“Nah, tidak aa minat. Sudah malam. Boros bensin dan aki saja.”

“Kau yakin?”

“Ya.”

“Bagaimana kalau..”

Belum sempat Sam selesai bicara, Dean menyodorkan setengah gelas kecil yang berisi Jack Danniel’s tadi.

“Diam dan minumlah ini.” kata Dean lebih mirip perintah.

“Tapi..”

“Minumlah, atau kau kupanggil grannie Sammy karena terlalu cerewet!”

Sam memutar bola matanya, kemudian menenggak minuman itu, dan menggebrakkan gelasnya ke meja.

“Sudah selesai, grandpa Dean?” tanya Sam kesal. Kalau aku grannie Sammy, maka kau adalah grandpa Dean. Umpatnya kesal.

“Bagaimana rasanya Sam?”

“Kau aneh Dude.”

“Aku tidak.”

“Omong kosong! Bagaimana kalau kau tidur saja?”

“Aku sedang tidak ingin melakukan apa – apa Sammy.”

“Tidak mengantuk?”

Dean menoleh. Matanya memang sayu. “Aku tidak bisa tidur, sammy.” kata Dean lirih. Hampir memelas dalam konteks ini.

“Aku tahu.”

“Apa?”

“Akan kubuatkan kau sesuatu.”

“Jangan buatku penasaran Bitchy Sammy.”

“Ikut aku.” kata Sam sambil menarik tangan Dean. Mau tak mau, Dean juga beranjak dari kursinya. Dia tidak mau diseret – seret Sam, memangnya dia kambing sembelihan.

Sam mendorong tubuh Dean ke atas tempat tidur Dean dan kemudian menggerakkan kedua tangannya tepat di samping kanan dan kiri Dean.

“Woa! Dude, aku masih normal!!” teriak Dean.

“Apa?”

“Kau tidak ingin memperkosaku kan?”

“Bodoh! Aku hanya menyuruhmu berbaring. AKu baru saja akan menarik selimutmu, tolol.” kata Sam kemudian menyelimuti tubuh Dean dengan kain afghan.

“Untuk apa?”

“Diam disini. Aku akan segera kembali.”

Sepuluh kemudian, Sam kembali dengan sebuah gelas berwarna pink bergambar panda.

Dean memutar bola matanya.

“Panda??” Dean menatap Sam.

Sam hanya menatap si panda di gelas itu.

“Hah! Kau terlalu banyak drama Sammy.”

“Minumlah.” kata Sam sambil menyerahkan gelas itu kepada Dean.

Dean mencoba menerka apa isi gelas itu. Cahaya kamar mereka yang remang – remang mengacaukan penglihatan terhadap barang berwarna gelap nan cair di dalam gelas itu.

“Susu coklat?”

“Kok tahu?”

“Dari baunya saja kentara.”

“Minumlah.”

“Dude!! AKu sudah 30 tahun! Dan kau menyuruhku minum susu coklat penghantar tidur?”

“Tapi, waktu kau kecil, susu coklat selalu membantumu untuk tidur.”

“Bohong!”

“Aku serius. Saat aku kecil, sudah terhitung 5 kali,” Sam menunjukkan kelima jarinya kepada Dean, “aku melihatmu minum susu coklat malam – malam. Ketika itu, aku mau pipis saat tengah malam, dan aku melihatmu sedang membuat susu coklat di dapur.”

Dean memutar bola matanya.

“Saat itu aku kan belum akil balig!”

“Hah, kau akil balig saat usiamu 13 tahun.”

“Sammy! Tidak usah membahas masalah akil balig-ku.”

“Baiklah, minumlah.”

“Tidak akan berhasil.”

“Siapa tahu, kau hanya malu mengakuinya.”

“Lihat dan Perhatikan!” sahut Dean kesal. Dan akhirnya dia menenggak susu coklat hangat itu di depan Sam.

“Bagaimana?”

“Tidak ada reaksi.”

“Kita tunggu saja.” kata Sam sedikit bangga.

“Bagaimana?”

“Sama saja.”

“Bohong! Aku sudah melihatmu menguap empat kali. Matamu saja sudah berair.”

“Oh shit! Baiklah.” kata Dean tertunduk.

“Baiklah, selamat tidur Dean.” kata Sammy sambil tersenyum penuh makna kemudian berjalan ke arah tempat tidurnya sendiri dan siap mematikan lampu tidur itu.

“Sam?”

“Ya?”

“Thanks.”

“Untuk?”

“Menyelamatkan aku dari malas melakukan apa – apa.”

“Tidak papa.”

“Dan untuk susu coklat hangat itu.”

“It’s okay Dude.”

“Thanks sammy. Malam.”

Dan kemudian dengkuran keras dari Dean mulai terdengar. Menemani malam Sam yang masih tetap terjaga sambil tertawa simpul. Aku sayang kamu Dean. kata Sam dalam hati.

=END=

Kritik dan saran di tunggu. ^.^ dilayani via offline (ke nomer hape saya) . Karena saya malas untuk online.

The End


The End??
Disclaimer : I never own Supernatural. Or something else, with the Winchester. Even I always wish I can own my Dean Winchester. *lmao*
Rating : T
A/N :
1. Seperti biasa, lebih suka mengungkapkan perasaan terselubung Dean yang tidak tampak di layar kaca kalian saat menonton DVD Supernatural. Dan tentunya versi saya sendiri. *sok2 paling ngerti perasaan Dean gitu. Hehehe*
2. Menemukan satu fakta soal vessel para archangel. Mereka ndak akan pernah jadi linglung tanpa jiwa seperti vessel nya Raph di SN05. Dan ini temuan hebat.! Aku namakan, kesalahan Kripke! Hohohoho… ^.^ (gimme congrats!! LOL)
3. Cerita agak melenceng sedikit, tahulah, aku lebih suka menceritakan alur sesuai dengan pemikiran aku sendiri, jadi kayak… emang versi aku gitu.
4. Maap kalo bingung ma maksud percakapan Dean // Michael nanti. Satu pesan, percakapan dilakukan dalam pikiran Dean dan dijawab versi bisikan oleh Michael.
5. Thanks buat sist Etha (Reisa), sist Liz (Lizzumaki), dan sist Fio (Fiona)

===============
Dean bisa merasakan sakit teramat dalam saat badannya terpaksa membentur dinding. Belum saja Dean mencoba untuk berdiri, badannya sudah di paksa untuk menempel ke dinding, seolah terdapat perekat atau lem super dan sejenisnya yang membuat dia tidak bisa lepas dari dinding.

Tidak lama, Dean kembali terlempar melewati tengah – tengah ruangan, ke arah seberan dinding. Badannya terkulai. Benturan terakhir membuat tulang tengkoraknya serasa hampir remuk. Dean sudah dibanting ke kanan ke kiri sejak sepuluh menit terakhir.

Dean mencoba berdiri, meski darah segar mengalir dari pelipis, dan kepala bagian belakangnya. Mencoba untuk menegakkan badan, meski punggungnya teramat sakit akibat benturan.

Dean mencoba menghapus darah segar dari pelipisnya, Dean menoleh pada sesuatu yang menarik perhatiannya. Ditariknya Colt itu. Dia sudah siap dengan pelatuknya. Tapi dia sadar satu hal. Ada sesuatu yang membuat dia tidak bisa menembakkan peluru itu ke arah lawannya. Dia tidak bisa menembakkan ke arah orang (demon) yang telah menyiksanya itu.

Di hadapan Dean, berdiri bukanlah sosok demon biasa. Bukan demon kelas teri, bukan demon sekelas Ruby juga. Inilah, demon yang telah lama di tunggu – tunggu. Di hadapan Dean, berdiri Sam Winchester. Adiknya, adik kandung Dean sendiri. Yang sejak sehari yang lalu menyatakan setuju untuk menjadi vessel Lucifer.

Di hadapan Dean, berdiri Lucifer dalam diri Sam. Dean sadar, menarik pelatuk Colt tidak akan membuat efek yang berarti pada Lucifer, tapi, Dean hanya tidak ingin melukai tubuh asli Sam.

Dean tidak akan pernah bisa, dan tidak akan pernah mau melukai Sam. Adik kandung satu – satunya. Yang dicintainya setengah mati, meski berulang kali Dean menolak kenyataan itu. Dean telah berusaha sekuat tenaga, membuat Sam bisa hidup, berdiri sampai sekarang. Dean telah mengorbankan segalanya untuk Sam. Dia telah mengabdikan hidupnya demi Sam, menjaga Sam dari kecil hingga sekarang, dan pernah sekali dia korbankan nyawanya demi Sam. Maka kini, Dean tidak ingin melukai Sam, untuk terakhir kalinya. Dean tidak tega. Dia rela dirinya terluka.

Sam, dengan Lucifer di dalamnya, menghantamkan Dean sekali lagi. Berselang, Luce mendekati Dean yang tersaruk – saruk menjauh.

“Dean…Maafkan aku, semua ini memang jalan yang benar.” Luce mengangkat tangannya dan melakukan sesuatu, yang membuat Dean merasakan teramat sakit di jantungnya.

“Sam seharusnya setuju dari awal. Lagipula, kamu juga bukan kakak yang baik, Dean. Seharusnya kamu tidak terlalu mengekang Sam. Toh, itu hidupnya, bukan hidupmu. Lihat akibat dari perbuatanmu sendiri.” kata Luce kemudian terkekeh.

Ini memang salah Dean, memarahi Sam lagi karena hasrat kecanduan Sam pada darah demon yang semakin meningkat, dan pada puncaknya, Sam memilih setuju pada Luce.

Dean terkulai lemas. Tenaganya sudah habis. Napasnya tersengal – sengal.

“Kau tahu, menyenangkan sekali, melihat vessel Michael terluka sebegini parah. Sayangnya, dengan ketidak setujuanmu, malah membuat aku akan menang telak.” dengus Luce.

“Ti..dak..” kata Dean mengerang mengerang perlahan, sakit tak tertahankan menyerang kerongkongannya.

“Dean.. Senang sekali melihatmu kembali ke Neraka. Sayangnya, aku tidak akan mau kembali lagi ke sana. Menghancurkan Bumi lebih menyenangkan rupanya.”

“Di..am.. B.it..ch.” kata Dean lagi. Dia mengusahakan menarik napas, dan menyimpan energi. Dicobanya menggerakkan kaki kanannya yang sempat retak. Tapi tenaganya belum cukup.

“Kau yang jangan memaksakan diri untuk berbicara Dean. Tenagamyu malah akan terkuras sia – sia.”

“Kau…ben..ar..benar…” kata Dean terbata – bata.

“Diamlah!” Luce membentak. “Kau hancur Dean! Pintu Neraka sudah siap terbuka bagimu untuk kedua kalinya.”

Namun perlahan, Dean bisa mendengarkan sebuah bisikan. Seperti desisan angin namun merdu, di telinganya. Dean mengacuhkannya. Matanya malah nanar, membayangkan kenangan pahitnya di Neraka. Hellhounds yang menggerogoti tubuhnya. Tidak, Dean tidak mau kembali ke sana lagi.

Sebuah bisikan dengan pasti terdengar. Dean tahu suara siapa dalam bisikan itu, suara berat, berwibawa, menunjukkan ketenangan dalam setiap kata – katanya. Sebuah tawaran terngiang dalam bisikan itu. Dean menggeleng sekali.

“Aaaarggghh…” pekik Dean. Jantungnya kaku, dia kehabisan oksigen dalam paru – parunya. Dean menutup matanya dengan letih. Maafkan aku Dad, Mom, Sam, Cass dan kai Michael.

“Dean, Ini semua sudah takdir. Katakan kau setuju. Semua ini takdir, jalan yang sudah paten. Kau, Sam, Castiel, semua ini sudah diatur.” Bisikan itu kian jelas.

Dean hanya menggumam dalam hati. Dia sudah kekurangan tenaga, untuk menyuarakan suaranya. Tapi, Sam…

“Kau sudah mengawasi, menjaga dan mendidik Sam, adikmu, dengan baik. Sekarang, biarkan aku yang mengawasi dan mendidik adikku sendiri Dean.” Bisikan itu makin jelas, seakan memang dibisikkan di samping Dean.

Jangan pernah lukai Sam. Aku tidak perduli, itu adik siapa, yang penting jangan lukai Sam.

“Itu semua memang jalannya Dean. Pernakah kau memikirkan, kenapa ada Azazel atau YED, mengapa Sam menjadi kandidat pilihan sebagai calon Pemimpin Demon, Demon Leader? Kenapa Sam menjadi anak terpilih, dan bukan kamu? Atau keluarga lain. Pernakah kau memikirkan mengapa semua itu terjadi pada keluargamu, kenapa tidak pada keluarga lain?”

Dean hanya diam. Dia memejamkan matanya lebih dalam. Mencoba membayangkan semuanya lebih jelas. Dia memang tidak pernah memikirkan sebab Sam menjadi anak pilihan, maka dia mencoba memikirkannya sekarang.

Sejak lima tahun belakangan, Sam kembali muncul dalam hari – harinya. Sam, adik yang telah dianggapnya tidak patuh pada perkataan Dad, kembali menemaninya. Sam, saat itu, mahasiswa yang terpaksa berhenti dari rutinitas kuliahnya, karena Jess, kekasihnya meninggal dengan cara yang sama dengan ibu mereka, Mary. Dan Sam, terpaksa menurut mengikuti rutinitas baru, berburu hantu bersama kakaknya, Dean.

Sejak itu pula, pola kehidupan mereka berubah, efek besar bagi Dean. Semenjak Sam ikut bersamanya, mewarnai hari – harinya, dia merasakan kembali tanggung jawab sebagai kakak. Dia bisa mengerti, apa itu makna kehidupan, apa itu makna kebersamaan, dan makna penting arti keluarga. Bukan sembarang keluarga, tapi keluarga yang harmonis, walau tanpa kedua orang tua. Dan sejak itulah, Dean sadar, dia tidak bisa hidup tanpa Sam.

Maka, saat Sam terpaksa harus menutup mata, di suatu malam, Dean rela membuat perjanjian dengan Crossroad Demon, tanpa pikir panjang, Dia bukan vampire yang immortal, dia juga bukan kucing dengan sembilan nyawa. Dia hanya Dean, manusia dengan satu nyawa, yang malam itu sengaja dia tukarkan dengan kehidupan Sam.

Benarkah, semua ini takdir? Benarkah semua itu jalan yang memang sudah ditentukan dulu kala, dan dia hanya menjalaninya? Atau ini adalah paksaan untuk menjalani kehidupan?

Baru kali ini, Dean memikirkan semuanya dengan cepat. Takdir hidup Sam. Dean tahu, Sam memang bukan manusia biasa. Sam punya takdir yang aneh, pikir Dean dulu. Tapi baru kali ini, malam ini, malam menjelang apocalypse dengan bertemunya dan bersatunya Sam, vessel Lucifer, dan Luce sendiri.

Sejak tiga tahun lalu, malam dimana terkuak Sam adalah kontestan calon Demon Leader, kemudian, Sam adalah special kids, anak pilihan yang dijagokan Azazel, yang tak lain adalah tangan kanan Lucifer. Kemudian, transformasi kecil Sam, yang berubah menjadi demon blood addict.

Benarkah saat itu, Sam harus menjadi Demon Leader? Samakah arti pemimpin para demon itu, dengan Lucifer yang Fallen Angel of Death? Samakah artinya dengan Sam harus menjadi vessel, atau perwalian dari Lucifer menghancurkan dunia? Memimpin para mati, memimpin kuasa kegelapan?

“Kau benar Dean, sejak saat itu pula, Lucifer menentukan Sam sebagai calon vesselnya kelak. Dan semua ini memang seharusnya Dean. Kau adalah anak penurut, dan Sam, anak pemberontak, seperti Lucifer.”

Dean membuka matanya.

“Jadi kau masih sadar Dean? Kuharap kau masih hidup saat aku membangkitkan para mati. Untung aku sudah menyiapkan segalanya.” Kata Luce sambil menyiapkan peralatan pembangkitan masal.

“Diamlah!”

“Terserahlah, kau sudah selesai dengan refleksi batinmu? Kalau begitu, aku akan mulai Apocalypse ini.” Lucifer mulai membacakan mantra – mantra dalam bahasa Latin.

Maka Dean hanya bisa menunduk, letih, dan pasrah. Dirinya sudah tidak kuat lagi.

“Dean, aku tidak pernah memohon kepada siapapun, jadi aku mohon kali ini padamu. Please. Biarkan semua ini berakhir. Satu – satunya yang dapat menghentikan Luce adalah aku, lewat kamu. Please Dean.”

Yang kau pikirkan hanya kamu! Keluargamu, Daddy Mu, Lucifer, dan segala omong kosong ini! Pernakah kau sendiri yang memikirkan nasibku, Sam, ayah dan ibuku? Yang terpaksa harus berkorban demi keluarga sialanmu itu?

“Kau belum mengerti juga Dean. Keluargamu, dilahirkan, dari darah pejuang. Darah orang kuat. Darah pemburu hebat. Keluargamu, dilahirkan dari orang – orang yang juga mengerti seluk beluk dunia supranatural ini. Keluarga Ibumu. Dan Ayahmu, keluarga patriot yang hebat.”

Lalu, Kutukan apa yang telah di berikan Daddy Mu pada keluargaku??!!

“Ini bukan kutukan, sebuah apresiasi lebih tepatnya. Kau bayangkan saja, bagaimana bila tanggung jawab pemegang kekuasaan atas apocalypse ini diberikan pada orang lain, bukan pada keluargamu. Bila, vessel Luce bukan Sam, tapi orang lain. Mungkinkah, apocalypse dapat tertunda? Atau apocalypse dapat dihentikan? Mungkinkah itu? Dengan ketidak tahuan mereka yang dipaksa tahu, Apocalypse justru akan terjadi lebih cepat dari seharusnya. Justru itu, keluargamu, yang dianggap telah menekuni bidang ini, diberikan apresiasi berupa ini Dean.”

Dean berpikir sejenak, Michael benar juga. Bila semua ini dilimpahkan ke keluarga lain, bisakah mereka kuat, bukannya malah bunuh diri di satu sisi?

Lalu, Dean pun menjawab, dalam pikirannya, yang sejak tadi digunakannya untuk berkomunikasi dengan Michael.

Tapi… Dengan berkata iya, secara tak langsung, aku akan melukai Sam. Aku tidak ingin begitu. Aku akan kehilangan dia. Lalu, masalah keluargamu hilang, kemudian aku dan Sam hanya akan seperti gumpalan daging manusia yang duduk di kursi roda, tanpa jiwa seperti vessel Raphael?

“Dean, satu – satunya yang dapat menghentikan dia itu aku. Aku akan lakukan apapun itu untuk mengembalikan jiwa kalian ke tempat seharusnya. Aku tidak akan menyia – nyiakan vesselku sendiri. Setelah aku selesai dengan Luce, aku sendiri yang akan menolong kalian. Menolongmu, dan Sam. Aku tidak akan seperti Raphael yang hanya memperalat vesselnya saja.”

Maksudmu?

“Raphael membutuhkan vesselnya hanya dalam waktu singkat. Selesai dengan urusannya, dia menelantarkan vesselnya begitu saja.. Dan aku tidak akan begitu padamu Dean. Bahkan, aku siap menolong Sam nantinya.”

Tapi.. bagaimana bisa?

“Kau ingat Jimmy Novax? Vessel Castiel? Saat Castiel sempat meninggalkan vesselnya, Jimmy Novax masih sehat kan? Bertemu lagi keluarganya, makan, dan berjalan! Dia bukan manusia tanpa jiwa. Dia hidup! Dan, kau ingat, saat kau kembali ke masa lampau, Kau menyaksikan John, ayahmu sebagai vesselku. Buktinya, selepas itu, John masih bisa menjadi ayahmu, menemani Mary melahirkanmu dan kemudian Sam, berburu, dan kemudian mati karena Azazel. Itu semua karena Castiel dan Aku, menjaga baik vessel kami. Bukan Raphael, yang meninggalkan vesselnya begitu saja. Seperti tidak tahu terima kasih!”

Dean membuka matanya. “HENTIKAN ITU!!” teriak Dean agak kencang.

Bahkan Lucifer pun menoleh ke arahnya, dan menghentikan prosesi pembangkitan seluruh para mati demi penyebaran virus demon mematikan. Padahal, Lucifer kurang membacakan dua kalimat lagi.

“Ada apa denganmu Dean? Tidurmu terganggu karenaku?”

Mintalah padaku sekarang, kata Dean dalam pikirannya lagi, sambil menatap Lucifer lekat – lekat.

“Kau yakin?” tanya Michael via bisikan lagi.

Katakan saja. Toh kau kan bukan seperti akan melamar aku dengan berlutut.

Dean bisa mendengar suara terkekeh dalam bisikan itu.

“Kau mau jadi vesselku?” tanya Michael.

“Ya.” Sahut Dean agak kencang. Sampai Lucifer yang menatap Dean kaget.

Tiba – tiba kilatan cahaya muncul. Putih terang, menyilaukan mata. Baik Dean maupun Lucifer sendiri. Bahkan Lucifer terpaksa memicingkan matanya.
Selanjutnya, Dean hanya pasrah. Matanya gelap. Dia lupa segalanya. Yang dia ingat kemudian, bahkan para Archangel turun, memilih vessel mereka, hadir di tempat itu. Bahkan Archangel seperti Jophiel, Metatron, Chamuel, Raziel dan lainnya ikut turun.

Dan ruangan itu akhirnya di penuhi Cahaya, ‘Pertarungan Di Mulai’

*****
Dean membuka matanya, cahaya silau memekikkan wajahnya. Seorang perempuan dengan bandana di kepalanya, dan sebuah celemek di pinggangnya membuka jendela.

Dean masih terbutakan oleh cahaya matahari pagi.

“Selamat pagi, sayang.” Sapa perempuan itu kemudian mengecup bibir Dean dengan lembut.

Barulah Dean sadar, semua itu adalah…

Belum sempat Dean melanjutkan pemikirannya, perempuan itu sudah melumat bibir Dean dengan lembut dan Dean pun membalas ciuman itu.

“Sudah, cepat bangun dan bersihkan dirimu. Kamu kacau sekali.” Kata perempuan itu kemudian menepuk bahu Dean dan menyerahkan handuk berwarna hijau kepadanya.

Dean duduk dengan manis di samping meja makan yang cukup besar untuk enam orang. Di samping Dean, sudah duduk orang yang akhirnya di cintainya, Jo. Jo bukanlah Jo Harvelle. Jo ini, adalah gadis rupawan yang terpikat oleh kebaikan hati Dean, dan bukan penampilan menawan Dean.

Sementara di hadapannya ada Sam dengan Sandra, gadis yang juga akhirnya menjadi tambatan hati bagi Sam. Sementara itu, ada Bobby, yang duduk di arah lain meja yang berbentuk persegi panjang itu.

Sam baru saja akan mengambil makanan dari atas piring hidangan, kemudian Sandra memukul tangan Sam.

“Kau harus berdoa dulu okay??” kata Sandra

“Itu benar Sam. Dan kau juga Dean, dan Uncle Bobby juga.” Kata Dean.

Berselang, setelah prosesi makan selesai, Dean yang berada di ruang tengah didekati oleh Sam dan Bobby yang tepat berada di sampingnya. Dean sedang melamun, menatap keluar jendela, dimana awan putih menghiasi langit biru.

“Ada apa Dean?” tanya Sam di samping kanannya.

Dean hampir saja terlonjak.

“Tidak papa.” Sahut Dean ketus.

“Ayolah.” Kata Sam mengusap – usap bahu Dean.

“Lepaskan aku. Hey, buat apa kalian disini? Dan berjajar denganku? Memangnya kita mau lomba racing wheelchair?” tanya Dean ketus.

Dean memang menjadi lebih ketus dan lebih ceplas – ceplos semenjak malam kejadian itu. Malam apocalypse. Malam dimana dia menyerahkan dirinya pada Michael.

Dean dan Sam, memang tidak berakhir dengan gumpalan daging manusia tanpa jiwa seperti kata Dean saat itu. Dean dan Sam, selepas Apocalypse itu, tetap menjadi manusia normal, laki-laki normal, hanya dengan kondisi yang tidak normal.

Michael mengucapkan beribu maaf, ketika dia hanya bisa membuat jiwa Sam dan Dean kembali tapi tidak bisa menyembuhkan kelumpuhan Dean dan Sam.

“Ini adalah jalan lain dari takdirmu Dean. Kau akan lumpuh, tapi justru ini akan menjadi jalan lainnya.”

Dasar busuk! Umpat Dean tak lama setelah semuanya kembali normal, para angel kembali ke asal mereka, Heaven. Dan Lucifer? Dia kembali di kurung di Hell, bersama demon lainnya. Lucifer tidak akan pernah bisa keluar lagi. Itu janji God, yang malam itu ikut ambil bagian lewat suara tanpa raga.

Namun, sejak itu, Dean dan Sam berarti cacat. Tiga orang berkursi roda dengan perasaan dan suasana hati berbeda, tinggal di satu atap.

Mungkin maksud dari perkataan Michael, terjawab setahun kemudian.
Dean dan Sam akhirnya menemukan pasangan yang tepat bagi mereka. Mereka saling mencintai satu sama lain. Dan, jadilah Sandra dan Jo, yang merawat Dean, Sam dan juga Bobby.

Dan baik Dean maupun Sam, serta Bobby memilih, mengundurkan diri dari dunia perburuan ini. Dean dan Sam teramat mencintai Jo dan Sandra, dan timbul perasaan tak tega meninggalkan mereka berdua, dua orang perempuan, sendirian.

*****
Malam lain, di Negara Bagian lain.

Mobil polisi memenuhi jalanan yang berhawa dingin mencekam.

Selain itu, mobil Ambulance juga disiapkan dua unit.

Sebuah pembunuhan sadis kembali terjadi dalam setengah tahun
belakangan. Elm Street. Sebuah rumah kutukan, dengan angka pembunuhan tertinggi di rumah yang sama. Di jalan sama, dengan nomor rumah sama.

Telah terjadi sekiranya 2 pembunuhan dalam setengah tahun. Dan total 9 pembunuhan sadis dalam empat tahun terakhir.

“Kukira, ini masih berkutat di pembunuhan yang sama.” Kata Opsir Braeden.

“Maksudmu Freedy Krueger?” kata Opsir McLarren.

“Kurasa.” Opsir Braeden menjawab sambil meminum segelas kopinya.

“Bodoh! Dia kan cuma mitos.” Kata Opsir Campbell.

“Siapa bilang. Kau sih, Opsir baru. Disini sudah sering terjadi pembunuhan seperti itu. Susah rasanya mencegah kasus ini tersebar.” Kata Opsi McLarren.

“Hey, Ladies. Bisa berhenti bergossip?”

Semua opsir itupun menoleh.

“Agent Harrison. Dan Agent Ford. FBI. Bisa minta waktu?”

“Soal kasus ini?” tanya Opsir Braeden.

“Yeah. Kurasa kasus ini sedikit lain. Seperti ada..” kata Agent Ford.

“sesuatu yang mistik.” Kata opsir McLarren

“Ceritakan.” Perintah Agent Harrison.

“Di Elm Street, sering terjadi pembunuhan sejenis. Tiba – tiba, tapi mematikan. Begitulah. Semua mengenalnya sebagai Freedy Kruger.” Kata Opsir McLarren.

“sssstt… Kau tidak boleh menyebut namanya dengan keras.” Kata Opsir Braeden.

“Jadi, menurutmu, seperti apa dia?”

“Dia adalah.. makhluk malam. Entahlah… seperti roh penasaran atau sebagainya kurasa.”

“Jadi.. seperti… mitos Jason Voorhees?”

“Ya.. Kurasa, Para FBI pun tak’an bisa menangkap Freedy.”

“Begitukah menurutmu Opsir McLarren?”

“Tentu saja Agent Ford.”

“Baiklah, terima kasih.” Kata Agent Harrison kemudian berlalu meninggalkan opsir – opsir muda yang doyan gossip mistik itu.

“Tunggu sebentar. Kurasa..” kata Opsir Braeden sambil merogoh saku celana nya, dan menemukan notes kemudian mencatat sesuatu.

“Apa ini?” kata Agent Ford saat menerima lembaran sobekan kertas dari Opsir Braeden.

“Orang ini, pasti tahu bagaimana menyelesaikan kasus ini. Telepon saja dia, tanya dimana alamatnya, dan katakana urusan mendadak. Well, dia pernah membantu bibiku, katakan saja, berhubungan dengan Lisa Braeden. Dia akan segera memberitahu dimana lokasinya tinggal.”

“Terima kasih, Opsir Braeden.”

****
“Selamat siang.” Kata Agent Harrison saat pintu terbuka.

Jo membukakan pintu.

“Dean Winchester?” tanya Agent Ford.

“Silahkan masuk. Dia sudah menunggu.”

“Jadi bagaimana? Kalian setuju?”

“Pihak departemen akan memberikan kalian kaki baru, bila kalian setuju dan berhasil menangkap Freedy Krueger?”

“Shit! Aku kira benar – benar berurusan dengan Lisa Braeden!”

“Jadi bagaimana? Kalian setuju atau tidak?”

“Sam? Bobby?” tanya Dean menyanyakan pendapat.

Dan kemudian serempak mereka mengangguk bersamaan.

A/N II :
- Maap kalo open ending. Bukan maksudnya nda nyelesain cerita.
- Cuma sengaja di buat open ending supaya pada penasaran gimana akhir nya nanti. Bisakah Dean n Sam menangkap Freedy Krueger makhluk legendaries itu?
- Kedua, ini pemikiranku sendiri bagaimana mengalahkan apocalypse! Semua Archangel turun menyerang Luce. Bahkan se- God pun ikut andil. Michael, hurt Lucifer. Kemudian menyembuhkan baik Dean atau Sam.
- Ketiga. Sam dan Dean tetap hidup tanpa cacat, kecuali cacat fisik, pertama karena Kripke melakukan kesalahan (Ingat judul teori ku, Kesalahan Kripke!) Jimmy dan John kan pas ntu masih idup sehat, pdahal udah lepas dari pengaruh Angelic nya. Hehehe..

Kritik dan Saran sangat membantu. Maap terlalu banyak Author Note!

thanks.. ^.^

Playing Death

Playing Death

GENRE : HOROR, THRILLER

RATING : bisa T – M (bahasaku terlalu mengerikan dan terlalu banyak kesadisan. Hahahahaha ^.^)

Disclaimer : Supernatural dan Devour bukan milikku. Kalau mereka punyaku, si Dean dan Jake sudah aku bawa pulang dari jaman dulu.

A / N :
1. Kondisi korban benar – benar aku deskripsikan sesuai dari Devour.
2. Entahlah, kesan Dean jijik pada organ akhir-akhir ini sering di tampilin di Supernatural season 5. Mengugah selera untuk mengerjai karakter Dean sampai mual. (keinget Dean bilang,. ‘be my valentine’ ke Sam sambil nyerahin jantung manusia. >> SN0514)
3. Mencoba mengcompare dua jiwa satu wajah. (Dean / Jake )
4. Menguatkan kenangan Dean tentang Jo, Hellhounds dan Ellen. (SN0510)
5. Maaf kalo cerita agak aneh, dan ngelantur karena ini cerita versi saya, diatas dari Supernatural dan Devour. Meng-mix antara dua definisi berbeda antara half human half demon sangat susah sebenarnya. Jadi aku ambil jalan tengah yaitu definisi ku sendiri. (SN0506)
6. Pengenalan tanda pemisah. Bila terdapat tanda ***** itu berarti akhir dari chapter. Bila — itu berarti masih di chapter yang sama, tetapi adegannya berbeda.

=====================================
Dean baru saja mengambil orderan makanan dari kasir, kemudian berjalan ke arah meja nomer delapan. Dean kemudian duduk di kursi panjang. Dia menyentakkan piring datar berisi salad sayur yang hampir menggunung dengan lapisan saus mayonaise dengan tatapan jijik, seakan berusaha menyingkirkan ‘makanan kambing’ tersebut dari hadapannya. Sementara itu, Dean berusaha mendekatkan dan mengakrabkan dirinya dengan cheeseburger-nya.

Dean mengambil botol saus sambal kemudian mengukir saus tersebut di atas daging burger nya. Sementara Sam, adiknya, yang nyatanya lebih tinggi darinya, yang sangat mencintai ‘makanan kambing’ tersebut, sedang membenamkan diri di balik sebuah laptop berukuran 14″ tersebut. Sementara matanya mengamati layar laptop, tangannya bergerak perlahan untuk mengaduk salad agar tercampur sempurna dengan mayonaise.

Dean baru saja hendak memberikan gigitan sayang pada burger nya ke dalam mulutnya, Sam langsung menyelanya.

“Tunggu!” pekik Sam sementara dia tetap menatap layar.

“Apa? Aku kan sudah cuci tangan?” tanya Dean heran. Memang dasar si Mr. Clean umpat Dean dalam hati. Selain sangat menikmati pola hidup sehat (merumput-dalam kosakata Dean), Sam termasuk golongan orang bersihan, di banding Dean tentu saja.
“Bukan! Bukan masalah cuci tangan.” sahut Sam sepotong – sepotong.

“Lalu apa Samantha??” tanya Dean sudah mulai berang. Sam membiarkan burger kesayangannya itu hampir dingin.

“Jangan panggil aku Samantha!” kata Sam sambil menatap Dean tajam. Kemudian dia memutar balik laptopnya dan menghadapkan layar laptop pada Dean. Sebuah tampilan website memenuhi layar. Sebuah berita heboh soal pembunuhan, atau mutilasi lebih tepatnya, beruntun di kota ini. “Lihat, ternyata sebelum si Dakota meninggal, tiga teman terdekatnya telah meninggal dengan cara yang misterius.”

“Misterius atau mengerikan?” tanya Dean sambil mengerutkan dahinya dengan tatapan aneh ke arah Sam. Pandangan matanya ke layar membuat dia harus terpaksa melihat potongan mayat yang berlumuran saus merah, darah, yang sudah tidak menyatu lagi dengan bagian tubuh yang lain, atau setidaknya mayat tersebut cukup tidak terlihat oleh cairan merah tersebut.

“Dua-duanya.” jawab Sam singkat seolah menghiraukan tatapan jijik penuh makna dari Dean. Sam menggerakkan kusornya dan mengklik sebuah judul tulisan yang membawanya ke sebuah jendela baru.

“Apa itu?” tanya Dean. Sebenarnya Dean bukan sesosok manusia yang buta komputer. Justru Dean bisa di bilang lebih berteknologi dari Sam, terutama dari segi elektro. Dean bisa membuat EMF dengan barang sehari – hari. Hanya saja pengetahuan Dean di dunia maya, atau internet, lebih terarah ke urusan dewasa ketimbang urusan perburuan.

“Ini dia. Dia adalah satu – satunya saksi mata, dan hidup dari semua mutilasi ini.”

“Sebentar… Maksudmu, dia masih hidup?”

“Yeah, dia menjadi saksi atas kematian keempat sahabatnya. Sungguh tragis bukan?”

“Seolah dialah pembunuhnya.” kata Dean akhirnya menggigit chesseburgernya.

“Kau benar, polisi memang sudah lama mengincar atau memata – matai dia. Polisi tentu saja sudah lama curiga padanya sejak terjadi kasus kedua. Kau tahu Dean, di kasus pertama, korbannya tiga orang.”

“Mengerikan. Memangnya, bagaimana bisa membunuh tiga orang bersamaan tetapi pelaku tidak terluka? Lagipula, apa sih yang di lakukan ketiga orang itu. Seperti orang bodoh saja, mati dengan cara mudah.”

“Hey, dude. Tidak semudah itu asal kau tahu. Makanya, baca artikel dari awal sampai habis. Lagipula, dua diantaranya bukan termasuk teman dekatnya. Mereka di temukan meninggal olehnya di asrama mereka. Dengan kondisi kacau.”

“Seberapa kacau?” tanya Dean penasaran.

“Well, darah membasahi kasur dan sarung bantal. Beberapa peluru hasil tembakan jarak kurang dari 10 meter bersarang di tubuh mereka dengan parah. Merusak jantung, dan paru – paru si laki – laki. Menembus dada si perempuan. Tebak apa yang terjadi? Mereka di tembak saat mereka sedang berhubungan…”

“Stopp.. sudah jangan buat aku kehilangan selera makan.” potong Dean yang sukses hampir mual gara – gara Sam.

“Bukannya kau sendiri yang tanya seberapa kacau?”

“Jangan terlalu mendetail. Lanjutkan ceritanya.”

“Tidak lama, di ketahui pemilik dari senjata pembunuh tersebut adalah Conrad. Teman dekatnya. Dia di temukan tewas tidak jauh dari dua orang tersebut, dengan batang pensil tertancap di telinganya, dan luka di mata, serta….”

“Kan aku sudah bilang. Jangan terlalu mendetail!” Dean mulai marah.

“Okay..okay.. Maaf. Hanya saja. Kau lucu, akhir – akhir ini kau mulai jijik dengan semua darah dan mayat. Ha- Hahahaha..” kata Sam kemudian di akhiri oleh tawanya yang terputus – putus itu.

“Terlalu banyak darah tertumpah dalam hidupku.” kata Dean polos.

“Jangan berlebihan.”

“Aaa… bitch.”

“Jerk. Seperti biasa.” kata Sam sambil memutar bola matanya.

“Lanjutkan kasusnya. Kasus kedua.”

“Baiklah, yang kali ini lebih aneh saja. Dia berada di tukang tatto bersama seorang perempuan, entah siapa namanya, yang kemudian menemukan sepotong jari di dalam kantung kentang gorengnya.”

Dean melempar seperempat (sisa) cheeseburgernya ke atas piring. “Dude kau buat aku mual.”

“Kau lucu dude.” Sam melanjutkan ketawanya. Untung saja Sam melakukan diet go-green, sehingga tidak ada perasaan jijik saat menyantap makanan berwarna merah tersebut (baca:daging,red).

“Lupakan. Jadi, bagaimana menurutmu? Makhluk apa ini?”

“Well, sejauh ini, dia lebih dari manusia, lebih dari binatang, atau demon kelas teri. Selera membunuh demon kelas teri tidak seperti ini. Kali ini, korban – korban kita seperti tercincang habis.”

“Kau sudah sinting dude. Itu sudah tidak lucu. Jangan melebihkan kondisi korban.”

“Aku serius. Seumur – umur, tidak ada demon sekejam ini.”

“Kecuali Famine yang pernah membuat dua insan manusia saling menggigit habis.”

“Kau benar. Dan aku tidak suka itu. Bagaimana dengan hellhounds?”

Seketika mata Dean nanar. Dua kenangan pahit dalam hidupnya terkuak seketika mendengar nama hellhounds. Hatinya sakit, jiwanya sakit. Sayang, matanya seakan menyumbat aliran air matanya. Dia tidak bisa menangis. Salah, dia tidak boleh menangis. Dean harus kuat, meski kenangan hellhounds, telah merenggut segalanya dari hidupnya, dan hidup dua orang yang amat di sayanginya.

“Mungkin. Mereka memang punya jiwa lapar sangat tinggi.” sahut Dean getir.

Sam kaget, dan menyadari raut wajah Dean. “Maaf. Aku keceplosan.”

“Tidak papa. Baiklah, bagaimana kita bertemu dengan dia?”

“Tadi pagi aku bertemu dengan tetangga sebelah rumahnya. Dia hari ini menghadiri upacara pemakaman Ross. Ross adalah korban ketiga, korban terakhir sejauh ini. Dia adalah orang terakhir yang bertemu dengan Ross, sekaligus orang terakhir yang di telepon oleh Ross sesaat sebelum ia meninggal..”

“Tunggu. Tapi mengapa hellhounds membunuh teman – temannya?”

“Pertanyaan bagus. Kurasa bukan hellhounds. Lagipula, kalau dia terasuki oleh demon, tetangga kanan kiri sebelah rumahnya tidak memberikan keterangan adanya perubahan sikap, sifat, tingkah laku.”

“Sebaiknya kita mencari tahu langsung dari mulutnya.”

*****

Seorang laki – laki yang tidak setinggi Sam dan sedikit lebih pendek dari Dean berjalan dengan tatapan serius, seolah kepalanya sedang penuh dengan segumpal pikiran. Laki – laki itu meski tampak sedang ebrpikir keras namun berjalan dengan langkah tergesa – gesa. Seolah ada sesuatu yang menyebabkan ia harus pergi dengan cepat.

Impala hitam bertengger di bawah pohon oak sambil mengamati keadaan luar gereja tempat upacara pemakaman. Sedang laki – laki tersebut berjalan sambil terburu – buru ke arah mobil van hitam yang di parkir sekitar lima belas meter dari Impala.

Dean dan Sam, kakak beradik itu sudah menunggu sekitar setengah jam lalu. Mereka sengaja membiarkan laki – laki itu menyelesaikan upacara pemakaman orang terdekatnya. Dean dan Sam setidaknya mengerti bagaimana bila dia menjadi orang yang terpaksa menghadiri tiga kali upacara pemakaman kurang dari dua bulan.

Dean dan Sam menghampiri laki – laki itu, sesaat sebelum laki – laki itu memasukkan kunci mobilnya ke dalam lubang kunci.

“Special agent.” kata Dean sambil mengeluarkan lencananya, dan kemudian Sam melakukan hal yang sama.

“Maaf, memangnya ada apa?” tanya laki – laki itu.

“Kau Jake Gray?” tanya Sam memastikan.

“Yeah. Aku Jake Gray. Ada apa?”

“Kami Special Agent. Bagian kasus pembunuhan misteri.”

“Seperti detektif?”

“Kurang lebih.” Jawab Dean, kemudian melanjutkan, “Aku Special Agent Hunt, dan dia partnerku, Special Agent Luther.”

“Agent Luther.” kata Sam sedikit miris sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Jake Gray. Hah! Bodoh! umpat Sam. Dia tahu siapa itu agent Hunt dan agent Luther. Yang benar saja.

“Jake Gray.” kata Jake, “Memangnya ada apa?” lanjutnya.

“Kami dengar, Anda adalah saksi mata dari keempat pembunuhan itu, benar bukan?” tanya Dean sok berwibawa. Sedang Sam menyiapkan sebuah notes kecil setelah disikut oleh Dean.

“Yeah. Aku melihat mereka semua mati terbunuh.”

“Begini saja, kau mau membahasnya lagi dengan kami?” tanya Sam.

“Tentu saja, tapi aku yakin kalian tidak akan percaya denganku seperti Sherriff lainnya di sini.”

“Belum tentu. Bagaimana kalau sekarang?” tanya Dean.

“Maaf, aku harus segera pergi. Aku terburu – buru.”

“Tunggu…” kata Dean.

“Begini saja, bagaimana kalau kamu ikut dengan kami? Kita akan bicarakan ini dalam perjalanan. Kami punya mobil.” kata Sam sambil menunjuk sebuah mobil hitam, yang terparkir di samping pohon oak besar.

“Maksud Anda, kalian akan mengantarkan saya?”

“Tentu saja, lagipula, partnerku akan sangat mengijinkan kau menumpang, benar begitu?” tanya Sam sambil menyikut Dean.

“Tentu saja.” kata Dean kemudian berbalik sambil menatap tajam Sam, dan menggerakkan tanggannya di depan leher seakan melakukan gerakan menggorok leher.

“Terima kasih.”

Mereka bertiga berjalan dan kemudian masuk ke dalam Impala milik Dean.

“Kemana kamu akan pergi?”

“Antarkan aku ke toko Tatto di Palm Street.”

“Toko Tattoo dimana kau menemukan bagian tubuh mayat temanmu?”

“Marisol yang menemukannya. Di dalam kantung kentang goreng. Tidak lama mayat Dakota di temukan.”

“Kalau begitu mengapa kau ingin kesana?”

“Begini saja, ceritakan semua yang telah kau ceritakan pada polisi setempat. Ceritakan dari awal kasus pembunuhan ini. Toh perjalanan ke Toko Tattoo itu perlu dua setengah jam dari sini.” terang Sam.

“Dimulai dari Darius?”

“Yeah, laki – laki yang tewas di kasur itu.” Sam lagi – lagi yang menjawab. Dean hanya diam dan memusatkan mata ke jalan. Sial, aku jadi sopir pribadi! Umpat Dean.

“Malam sebelum itu, Connie, er, mungkin kalian mengenalnya dengan nama Conrad. Dia meneleponku, mengajak aku makan siang bersama. Makanya, siang itu aku pergi ke asrama siswa. Sayang, kamar Connie terkunci. Aku malah menemukan ponselnya di depan kamar Darius. Aku masuk. Mendapati Darius dan pacarnya, meninggal, tragis. Kemudian, di kursi sebelah kasur mereka, Connie dengan lidah terpotong dan telinga tertancap pensil.”

“Wow. Sungguh?”

“Aku percaya kalian tidak mempercayai aku.”

“Siapa bilang?” tantang Dean.

“Kau melihat gelagat aneh dari si Connie beberapa hari sebelumnya? Seperti, dari mana dia mendapat pistol itu?” tanya Sam memutus pembicaraan Dean.

“Tidak. Tidak ada yang aneh. Mungkin siswa lain melihat itu hal yang lumrah. Connie membunuh Darius, kemudian bunuh diri. Tapi itu tidak mungkin.” kata Jake sambil menggeleng.

“Maaf, kau bilang siswa lain lumrah bila mendengar Connie membunuh Darius? Memangnya ada apa?”

“Connie dan Darius memang saling membenci. Mereka sering terlihat bertengkar. Bahkan beberapa hari sebelumnya, Connie sudah mengeluarkan pistol hendak menembak Darius. Tapi aku mencegahnya. Kemudian aku menyita pistolnya, dan membuangnya ke danau.”

“Tapi bagaiamana dia mendapatkannya?” tanya Dean.

“Entahlah. Aku juga tidak tahu. Itu… hanya… Entahlah. Semua tidak percaya aku pernah membuang pistolnya. Makanya, cerita Connie pembunuh Darius disebarkan. Tapi aku tidak percaya. Terutama, aku pernah memimpikan itu!”

“Mimpi???” tanya Sam dan Dean bersamaan.

“Yeah. Aku, Connie dan Dakota adalah teman sejak kami masih kecil. Suatu hari saat aku berulang tahun ke dua puluh satu, Connie mengajak dan memperkenalkan aku serta Dakota pada sebuah game online, berjudul “The Pathway”. Sejak itu aku sering bermimpi aneh, bahkan melihat sesosok makhluk aneh nan mengerikan di dalam basement ku.”

“Mundur sebentar, kau mengalami mimpi? Seperti apa contohnya?”

“Aku sempat bermimpi menembak ayahku sendiri, kemudian aku memotong lidahku dengan gunting. Seperti penglihatan. Tapi terkadang aku bias melihat apa yang telah terjadi. Entahlah. Aku sudah menceritakan pada sheriff. Tapi tidak ada yang percaya. Mereka menganggap aku anak ingusan yang stress kehilangan orang terdekatku.”

“Baiklah, lalu bagaimana dengan Dakota? Bagaimana jarinya bias ada di…”

“Kasus Dakota, aku tidak tahu sama sekali. Aku bahkan tidak tahu dia meninggal, sesaat barulah aku sadar setelah polisi datang.”

“Kalau si Ross?” tanya Dean.
“Diaa…. Aku menemuinya bersama Marisol sebelumnya. Kita bercerita tentang mimpiku yang lain. Aku sedang berburu…”

“Berburu?” tanya Dean. Well, konotasi dan denotasi ‘berburu’ sangat berbeda maknanya.

“Yeah, menembak seekor macan, kemudian aku mendengar bayi menangis. Aku memasuki hutan, tapi aku malah menemukan seorang perempuan tua, telanjang, dan melemparkan ular, yang kemudian mengigit leherku. Ada juga mimpi tentang seseorang yang membakar habis kampusku. Itu terjadi saat malam dimana Connie memperkenalkan The Pathway.”

“Sebentar, berarti kau mendapat premonition sebelum bermain “The Pathway”?”

“Yeah, tapi, setelah bermain itu, aku merasa lebih sering bermimpi atau mendapat menglihatan aneh.”

“Memangnya The Pathway itu apa sih?”

“Sebuah game. Entahlah, Connie mendaftarkan aku disana, pemainnya menyelamati hari ulang tahunku. Saat aku ingin membuka web tersebut, web itu sudah tidak ada. Hanya Page is not found. Entahlah.”

“Begitu ya? Kau melihat yang telah terjadi seperti apa?”

“Aku sempat bias membayangkan apa yang terjadi pada Ross. Bahwa dia dibunuh oleh makhluk yang ada di basement ku. Mobilnya tertabrak semak berduri.”

“Soal, makhluk dalam basement mu,seperti apa dia?”

“Aku cuma melihat sekilas. Pathway itu meneleponku, dan memberitahuku sesuatu. Aku lupa. Kemudian, aku mendengar ada seseorang berjalan di dalam basement. Aku mengikutinya. Kemudian, makhluk aneh itu mendekat ke arahku. Dia seolah bertubur besar, bertanduk, aneh. Mirip alien.”

“Lucu sekali.”

“Tapi aku serius, agent Hunt.”

“Mengerikan sekali. Orang tuamu dimana?”

“Ayahku dirumah, bersamaku. Ibuku, dia mengalami kecelakaan parah dan dirawat di rumah sakit sepanjang aku hidup.Dia terpaksa berada di kursi roda. Kondisinya parah.”

“Maaf sekali memaksamu untuk bercerita semua ini.” Kata Sam turut prihatin.
“Tidak papa. Hanya saja, kalian percaya dengan semua ceritaku yang aneh ini?”

“Kau bercanda dude, kami pernah mengalami yang lebih aneh dari smeua ini. Siapa juga menyangka kita pernah bertemu Lucifer.”

“Apa maksudmu agent Hunt?”

“Bukan apa – apa, dia orang jahat. Lupakan saja.Tenang saja, maksudnya Cuma ingin mengatakan, bahwa kita percaya padamu. Kita sering bertemu dengan kasus yang lebih mengerikan” Kata Agent Luther alias Sam yang sadar Dean sudah mulai mengelantur.

“Baiklah. Terima kasih agent Luther. Senang ada yang percaya dengan semua ini.”

“Omong-omong, mengapa kamu ingin kembali ke tukang tato itu?”

“Well, tadi aku bertemu dengan pendeta yang memimpin upacara. Dia bercerita soal setan yang bisu, dan tuli. Mengingatkan aku akan, Connie, telinga yang di sumbat dan lidahnya di potong. Pendeta itu bilang soal, makhluk kegelapan dengan wajah mirip kambing bertanduk tiga. Dan, aku sadar, tukang tato itu memiliki tato yang sama. Mungkin saja dia pernah bertemu dengan aliran sesat. Tapi, kalian percaya dengan setan dan semacamnya?”

“Yeah, aku dan partnerku sering melihat hal yang seperti itu. Tapi kita berusaha untuk menghalau mereka mengacaukan pikiran kami.”

“Wow. Sangat bagus sekali.”

“Anyway, kau sudah sampai. Ini kan tempatnya?” tanya Dean.

“Terima kasih sebelumnya.”

“Begini saja, kalau kau menemukan penjelasan lebih rinci, hubungi saja aku dan partnerku. Ini nomer kami.” Kata Sam sambil menyerahkan dua buah kartu nama.

“Hubungi kami saja, setelah kau selesai mendapat penjelasan darinya. Sehingga kau tidak usah menceritakan semuanya panjang lebar pada kami nantinya.” Kata Dean sambil tertawa.

“Terima kasih.”

*****

Dean dan Sam duduk termenung dalam kamar motelnya. Sam sedang mencari – cari artikel yang mungkin bias membantu makhluk apa itu. Sepanjang perjalanan pulang setelah menghantarkan Jake, mereka telah berdiskusi. Itu bukan hellhounds. Mungkin arwah penasaran, atau sesuatu yang lain. Yang belum pernah mereka temukan sebelumnya.

Dean beranjak berdiri, “Aku akan menelepon Castiel saja. Siapa tahu dia bias membantu.”

“Terserah saja. Kuharap dia bisa datang segera. Internet di tempat ini sudah mulai menjengkelkan.”

“Cas?” tanya Dean beberapa saat setelah dia menekan tombol ‘dial’.

“Ada apa?” suara di seberang sana.

“Aku ada di sini Ocean Motel. Kitaa…”

“Ada apa?” kata Cas di belakang Dean.

“Jangan selalu mengagetkan aku.”

“Maaf.”

“Menghabiskan pulsa saja kau.”

“Baiklah. Aku tutup.”

“Ada apa?” kata Cass lagi setelah menutup telepon dari Dean.

“Kasus.”

Cass diam sebentar, kemudian menjawab, “Bukan demon biasa. Dia…makhluk kuat.”

“Apa maksudmu?” tanya Sam.

“Kalian ingat soal anak setengah demon yang terakhir kita temui?”

“Yeah. Aku ingat. Jesse kan?” kata Sam.

“Jake Gray seperti dia. Hanya saja berbeda. Masa lalu yang berbeda. Dan takdir yang berbeda.”

“Tapi, bukannya, makhluk seperti dia hanya ada satu jenis?” tanya Dean.

“Benar, tapi dia berbeda. Jesse dan Jake jelas berbeda. Jenis yang berbeda. Karena itu, bisa ada dua yang seperti itu.” terang Cass sambil berjalan seliweran.

“Jelaskan lebih rinci.” kata Dean kemudian mengambil dua botol beer, yang satu untuk dirinya, yang satu untuk Sam.

“Begini. Jesse bisa berada di antara dua hal, demon dan manusia. Dia baru berusia sebelas tahun saat itu. Dia belum bisa menentukan apa yang terjadi. Jake, dia sudah dua puluh satu tahun. Sejak premonition pertamanya, kekuatan utamanya muncul, Jake sudah memilih untuk menjadi manusia. Di bawah sadarnya, dia sendiri telah memutuskan menjadi manusia.”

“Jadi, maksudmu, Jake telah berada di jalur yang benar?”

“Yeah. Di bawah sadarnya. Dia bisa saja menjadi demon kembali, tentu bila dia memutuskan untuk bergabung.”

“Berarti, half human half demon itu seperti memiliki kekuatan supernatural yang berbeda?”

“Anggap saja special kids, Dean. Seperti Sam. Makhluk – makhluk special seperti Sam dulu. Dia diciptakan dan dibenihkan manusia, hanya saja, dirusak kehadiran darah demon. Jesse, dibenihkan oleh demon dan manusia. Jake berbeda lagi.”
“Apa maksudmu?”

“Jake Gray. Orang tua aslinya adalah Anne Kilton. Dia terpossessed saat itu. Jake dibenihkan oleh dua demon. Dia lebih ke arah sepenuhnya demon side. Hanya saja, sesuatu terjadi padanya, membuat dia percaya, dan membuat dia memilih menjadi manusia.”

“Apa maksudmu?”

“Dia bisa menjadi sepenuhnya demon. Sayangnya tidak. Dia diambil dari kedua demon itu saat dia baru saja dilahirkan.”

“Dia diadopsi?” tanya Dean.

“Yeah. Bagiamana kalian bisa melewatkan hal itu?”

“Maaf, kami sebenarnya lebih focus ke dalam kasus, bukan pada Jake Gray sendiri.”

“Dia diadopsi keluarga Gray. Ayahnya dan Ibunya yang sekarang, mengambil Jake saat masih bayi, saat mereka berburu binatang. Dalam sebuah pondok, mereka mendengar bayi yang menangis, dan mereka melihat seorang demon mengangkat bayi tersebut. Dalam kacamata mereka, mereka melihat itu sebagai ancaman bagi sang bayi. Mereka tidak tahu bahwa itu adalah bayi yang baru saja lahir dari si demon. Mereka mengambil bayi itu. Dan meninggalkan dua demon itu di pondok dengan amarah mereka.”

“Pantas saja, Jake sering bermimpi soal, pondok itu.”

“Apa maksudmu?” gantian Cass yang bertanya.

“Jake bilang dia pernah berada di posisi sama. Berburu dan mendengar bayi menangis. Masuk ke pondok itu. Kemudian ular menggigit lehernya.”

“Penglihatan yang sengaja ditampilkan oleh orangtua kandungnya. Mereka ingin Jake melihat masa lalunya. Dalam versi yang berbeda. Ular, dari abad ke abad, dilambangkan sebagai makhluk bawah. Demon, Evil, Lucifer, sisi jahat, selalu dilambangkan dengan ular, atau bahkan terkadang singa atau harimau. Melambangkan kekuatan dan keperkasaan, dan kesadisan.”

“Berarti, mungkin saja keempat temannya itu dibunuh dan dibuat seolah Jake pembunuhnya karena mereka- orang tua kandung mereka, merasa, bahwa dengan cara itu Jake dapat kembali ke arah mereka.” kata Sam perlahan.

“Bisa jadi. Dan melihat premonition dan semakin terbunuhnya teman terdekat Jake bahkan orang terakhir yang di hubungi Jake, berarti sebentar lagi mereka akan menemukan Jake.” kata Sam lagi.

“Berarti kita harus menemukan Jake.”

“Sebelum para demon itu. Kemana dia?” kata Cass.

Dean merogoh kantung jeansnya, “Dia mengunjungi pembuat Pathway. Dia baru saja meninggalkan message padaku.”

“Kita harus segera kesana.” kata Sam.

“Pathway?”

“Sebuah game. Semenjak Pathway dimainkan, Korban pertama jatuh, dan kemudian korban berikutnya.” kata Dean acuh sambil berkemas. Sementara Sam sedang dalam proses men-shutdown laptopnya.

“Bagaimana jalan game itu?” tanya Cass.

“Entahlah, yang pasti para pemainnya bisa mendapatkan data pribadi Jake. Mereka mengirimkan ucapan selamat pada Jake di hari ulang tahunnya.”

“Ternyata seperti itu.” Gumam Cass.

“Ada apa?” tanya Sam.

“Tidak. Kau tahu, mungkin saja itu game buatan… Si pembuat sengaja membuat agar teman atau kawan terdekat Jake memainkannya dan mem-persuade Jake untuk bermain. Dari situ mereka bisa menemukan Jake dengan mudah.”

“Kalau begitu, demon itu sudah sangat canggih.”

“Atau merasuki seseorang yang merupakan pembuat game tersebut.” kata Cass santai.

“Dan, Jake sedang dalam perjalanan kesana.”

“Astaga, mengumpanka ke sarang yang tepat.” kata Dean.

“Kita harus bergegas.” kata Cass mengakhiri kemudian dia menghilang.

*****

Jake hanya mengamati si pembuat game itu. Mr. Kater. Aiden Kater. Baru saja Mr. Kater itu memasuki gedung Kater Games. Sesaat kemudian Jake berbalik meninggalkan arah. Dia berjalan berbalik ke arah mobilnya. Mengendarai mobilnya ke arah selatan.

“Kau gila!”

“Dengarkan aku. Wanita itu memang ada di dalam basementku.”

“Terserah. Tapi semua itu hanya omong kosong.”

“Memang seharusnya aku tidak menemuimu.” kata Jake kemudian membanting pintu. Dia kesal. Kenapa semua orang tidak ada yang percaya padanya. Kenapa? Dia menceritakan yang sesungguhnya. Dia tahu, pembuat game itu dapat membahayakannya. Tapi…. Jake diam sejenak. Tekadnya sudah bulat. Dia akan pulang kerumah, membersihkan badan, dan sore nanti akan menemui Aiden Kater, pembuat Pathway.

—
Jake baru saja mandi dan sedang duduk di tangga basement nya. Sebuah gudang rapuh nan berantakan ada di hadapannya. Sebuah rak kotor penuh barang tepat di depan matanya. Tiba – tiba, matanya seakan teralihkan perhatiannya ke arah sebuah lubang di dinding. Dia berjalan perlahan dan merogoh sesuatu. Sebuah kotak hitam!

Dia membuka kotak itu. Terpampang wajah ayahnya. Ayahnya seorang yang menganut ajaran sesat. Tidak. Ayahnya tahu siapa dia, Ayahnya tahu siapa sebenarnya dia. Siapa dia. Tapi mengapa ayahnya, merahasiakan itu semuanya? Kepada siapa dia harus bercerita? Special Agent itu kah?

Dia berusaha merogoh lubang itu lagi, siapa tahu berkas lainnya dia ketemukan. Siapa dia? Mengapa dia bisa melihat semua pembunuhan itu?

Tidak ada apa – apa.Dia berbalik. Kaget.

“Maafkan aku teman.” kata Connie kemudian melakukan sesuatu yang membuat matanya gelap. Tidak seharusnya Connie disini. Pikirnya. Connie sudah tidak ada.

—

“Connie?” tanya Jake saat pertama kali membuka matanya.

“Maafkan aku teman. Aku tidak punya pilihan lain.” katanya lalu menghilang entah kemana.

“Jake Gray. Sangat pintar, pemarah, anakku.”

“Bohong.”

“Kau hanya tidak mengerti apa yang terjadi. Ibumu, sebenarnya sudah mati. Anne Kilton namanya, ibu kandung biologismu. Melahirkanmu, dalam kedemon-annya. Aku adalah ayahmu.”

“Bohong. Ibuku sedang di rumah sakit dan asal kau tahu, ayahku sedang di rumah.”

“Bodoh!” kau hanya anak adopsi mereka. Mereka mengambilmu dariku. Dari ayahmu, dan dari ibu kandungmu.”

“Tidak! Kau bukan siapa – siapa!”

“Kau kira untuk apa game itu dibuat? Untuk mendapatkan kau kembali, setiap temanmu yang terbunuh, semakin membuktikan siapa dirimu.”

“Kau bohong.”

Jake Gray berlari menghidar. Sayang, Aiden Kater telah berhasil mennangkapnya, mencengkram erat dirinya. Tiba – tiba tangannya yang tertato, yang masih merah, merasa sakit. Dia mencengkram erat tangannya, meski badannya berusaha lepas dari cengkraman Aiden Kater.

“Lihat!” teriak Aiden Kater.

Jake menaikkan lengan jaketnya, melihat ke arah tangannya. Tatto nya berubah. Menjadi gambar kambing bertanduk, seperti milik tukang tattoo miliknya.

“Lihat! Pintu neraka sudah terbuka untukmu Nak. Kau adalah Anak Neraka. Anak Demon. Kau seharusnya ikut dengan kami.” Kata Aiden Kater kemudian berubah wujud menjadi Dakota.

“Lepaskan aku.”

Dakota kembali berubah wujud menjadi Aiden Kater.

“Aku mendapatkanmu dengan susah, dan aku tidak akan melepaskanmu begitu saja.”

“Lepaskan.” Kata Jake kemudian membuat Aiden Kater kehilangan keseimbangannya dan terjatuh ke dalam kolam di belakangnya. Aiden Kater membentur dasar kolam dan tubuhnya mengambang di permukaan. Asap tebal hitam mengepul dari mulutnya yang terbuka. Dan kemudian menghilang bercampur dengan angin.

—
“Kau tidak apa apa?” tanya Dean saat bertemu dengan Jake di depan gerbang perusahaan Kater Games itu.

“Tidak apa. Tapi kurasa aku baru saja membunuh Aiden Kater.”

“Kau yakin?” tanya Sam.

“Entahlah. Tapi…” belum sempat Jake melanjutkan kalimatnya, Castiel muncul di belakangnya.

“Sebaiknya kalian pergi segera, sekarang. Para sekuriti menyadari kematian Aiden Kater.”

“Kau, kau, dan kau, cepat masuk ke dalam mobil.” Kata Dean sambil menunjuk Jake, Sam lalu Cass secara berurutan.

Mereka menurut dan langsung masuk ke dalam mobil. Dean mengendarai mobil dengan cepat.

“Apa yang terjadi memangnya?” tanya Sam.

“Dia membunuh Aiden Kater. Tapi Demon itu masih ada di sana dan merasuki yang lain.” terang Cass.

“Bagaimana kau tahu? Aku kan sudah membunuh Aiden Kater?” tanya Jake.

“Benar. Kau membunuh Aiden Kater. Tapi bukan berarti kau membunuh demon itu. Demon bisa saja merasuki siapa saja. Menjadi siapa saja.”

“Jadi… Aiden Kater terbunuh sia – sia?” tanya Jake.

“Tentu saja.”

“Kau siapa?” tanya Jake baru saja sadar.

“Aku? Aku Castiel. An…” Cass baru saja akan mengatakan, Angel of The Lord.

“Dia Castiel. Partner kami yang lain. Dia mengurusi masalah sepertimu. Er, specialist dalam berhubungan dengan makhluk halus bin ajaib tersebut.” terang Dean kemudian terkekeh.

“Nama yang aneh.”

“Castiel adalah nama seorang Angel utusan Tuhan.” Kata Dean sambil terkekeh lagi. Sedang Cass hanya diam, seolah tidak mengerti.

“Mereka sudah menemukanmu.” Kata Cass tiba – tiba, sambil memegang tangan Jake.

“MAKSUDNYA???” tanya Dean, Sam dan Jake.

“Mereka sudah siap menerimamu kembali. Mereka sudah sekali kehilangan Jesse, mereka tidak ingin kehilangan dia kali ini.” kata Cass pertama untuk Jake kemudian untuk Dean dan Sam.

“Berbahaya.” kata Dean.

“Kita harus menyelamatkanmu.” kata Cass.

“Dari siapa? Memangnya ada apa? Siapa kalian?” tanya Jake bingung seratus persen.

“Special Agent. Urusan kasus pembunuhan, tetapi melibatkan makhluk gaib.”

“Ghost buster? Yang benar saja.” kata Jake tertawa. Semuanya hanya diam kecuali Jake.

“Kalian benar – benar ghostbuster ya?” tanya Jake kaget.

“Semacam itulah.” terang Sam jujur.

“Jadi ada apa denganku?” tanya Jake.

“Ayahmu, ayah adopsi mu, Paul, dia sudah tahu siapa kamu sejak kamu dilahirkan. Dia sengaja mengambilmu. Demi keuntungannya sendiri. Entah apa untungnya. Ibumu…” tiba – tiba Impala tersebut berhenti.

“Ada apa?” tanya Cass, Jake dan Sam.

“Entalah. Ada yang salah. Aku akan turun.”

“Tunggu! Aku tahu dimana kita.” Kata Jake tiba – tiba.

“Dimana?” tanya Dean dan Sam.

“Pondok itu.” kata Cass sebentar lalu pergi entah kemana.

“Mana Castiel?” tanya Jake.

Dean diam bingung.

“Dia masuk ke hutan.” elak Sam. Apalagi yang harus ia katakan soal Cass. Mengatakan dia seorang Angel yang bisa menghilang dan muncul tiba – tiba?

“Kita harus mencari Castiel. Di dalam sana, semua mimpiku berasal.” teriak Jake.

“Baiklah. Kita masuk sekarang.” kata Dean. Kemudian dirinya dan Sam membawa sebuah tas yang lengkap dengan dua buah senter.

*****

Mereka sudah berada di depan pondok tua tersebut.

“Disini?” tanya Sam.

“Yeah. Di rumah ini aku bermimpi mendengar bayi menangis.”

“Baiklah, sekarang kita masuk.” kata Dean.

Baru saja Jake melangkahkan kaki selangkah di depan Dean dan Sam masuk ke pondok itu. Pintu pondok itu tertutup.

“Jakee!!!” Teriak Dean dan Sam. Mereka menggedor – gedor pintu kayu itu.

Jake melihat wanita dengan busana ungu menangis di pinggiran pondok. Badannya tertekuk. Jake melongok ke dalam.

“Anakku.”

Jake berusaha menghindar. Tapi wanita tua itu menahannya. Sekilas dirinya mendapati bayangan nisan Anne Kilton. Inikah ibunya?

Wanita itu mendekatkan diri, mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Jake.Memberikan Jake masa lalu dirinya. Dimana di pondok ini, dia dilahirkan. Dimana dia bisa melihat kedua orangtua adopsinya mengambil dirinya semasih bayi. Dan, Ayah dan Ibunya yang berlari dari kejaran demon, ayahnya sendiri. Ibunya terjatuh, menghantam pohon oak besar. Ayah adopsi nya, menggendong dia.

Dia melihat demon itu marah.

Dia sadar. Matanya merah, menangis. Baru kali ini dia melihat semuanya. Terpaksa menyadari siapa dirinya. Keturunan murni demon. Matanya membelalak.. Namun wanita tua itu memunggungginya dan berbalik. Melewati pintu kayu tua, ke halaman belakang rumah.

Dia melihat, tulang belulang, darah berceceran. Sebuah altar batu, dengan sebuah cawan berisi cairan merah. Tetesan air menetes ke dalamnya.

“Itu darah.” Kata wanita tua itu.

Jake mendongak, melihat ke atas. Kedua orang tuanya, terikat. Terbunuh sadis. Meneteskan darah, ke dalam cawan tersebut. Jake jatuh tersungkur menangis. Kedua orangtuanya. Dia tidak peduli, mereka telah menipunya. Dia terlalu sayang dan membaur dengan kehidupan keluarga Gray.

“Minumlah darah itu, dan bergabunglah dengan kami. Kau tidak sama dengan mereka, kau, sama dengan kami.”

Jake mengumpulkan energinya, mendorong wanita tua itu ke pohon oak besar. Ingin memukulnya. Sayang, tiba – tiba wanita itu seperti tertahan sesuatu, mulutnya menganga. Jake mundur perlahan.

Jake mengamati perubahan yang terjadi. Wanita itu berubah wujud.

“Hi, Jake.” Kata wanita itu. Dia sudah tidak tua, dia menjadi muda, sosok yang dia kenal.

“Marisol?”

“Jake!” teriak Dean dan Sam yang akhirnya memilih untuk memutar ke arah belakang rumah. Ke halaman belakang.

Dean menggunakan senjatanya dan menembak Marisol.

“Bagaimana bisa?” tanya Jake.

“Aku bisa menjadi siapa saja Jake. Termasuk Marisol. Marisol yang kau temui belakangan ini adalah aku.” Katanya lalu tertawa.

Dean mengkokang senjatanya dan menembak wanita itu lagi.

“Winchester.” Kata Marisol kemudian tertawa dan melakukan satu gerakan. Telapak tangannya terulur, dan mengibaskannya ke angin. Dean dan Sam terhantam ke pohon oak besar. Punggungnya sakit.

“Lepaskan kami.” Teriak Dean.

“Ini bukan urusan kalian. Kali ini kesempatan bagi kami untuk mengembalikan kejayaan kami.”

“Lepaskan kami dan Jake. Atau aku akan…” Sam terdiam.

“Sam Winchester. Aku tidak akan menyakitimu, Lucifer akan mengambil alih untuk hidupmu. Tapi Dean, aku bisa membunuhnya, sekarang.” Marisol mengerutkan tangannya dan seketika Dean menggeram kesakitan.

“Lepaskan mereka.” Teriak Jake.

“Kau tidak bisa berbuat apa – apa Jake. Kau kehilangan kekuatanmu, karena kau memutuskan menjadi manusia. Kau tidak bisa sekuat Jesse dulu.”

“Siapa Jesse?”

“Sepertimu. Hanya saja dia membangkang. Dia entah kemana sekarang.”

“Hiraukan dia Jake!” teriak Dean kesakitan.

“Diam!” kata Marisol, mengerutkan tangannya lagi. Dean dan Sam meringis kesakitan.

“Lepaskan mereka!” perintah Castiel yang tiba – tiba muncul. Dia membawa pisau yang lain. Sesuatu lain.

“Ini bukan urusanmu Castiel! Diam saja kau!”

“Pantas saja, kau bisa menemukan dia dengan cepat, dan kau tidak terlacak olehku, Eleanor.” kata Castiel.

“Eleanor?” tanya Sam.

“Dia bukan Demon. Dia fallen Angel. Angel yang dibuang ke neraka, karena berhubungan dengan Demon. Mengkhianati Heaven, memihak ke arah Lucifer. Dan berhubugan dengan kaki tangan Lucifer. Dia menjadi demon setelah ia meresmikan dirinya bergabung bersama kaki tangan Lucifer.”

“Omong kosong! Kau tidak bisa membunuhku.” Kata Eleanor itu. Eleanor dan Marisol adalah orang yang sama.

“Kau bukan manusia, bukan Angel. Tapi tubuhmu masih separuh Angel, bodoh!” kata Cass. Dean terkikik kesakitan. Baru kali ini dia mendengar Cass mengumpat.

“Jake, lupakan semua omong kosong ini, dan minumlah.” Eleanor mengulurkan tangannya mengangkat cawan itu, dan hendak mengulurkannya pada Jake.

Castiel bergerak maju dan menusuk Eleanor menggunakan pisau untuk membunuh Angel.

“Bodoh!” teriak Eleanor.

Tubuhnya terbakar. Ia berubah wujud. Bukan wujud Marisol. Bentuk Demon. Kaki tangan Lucifer.

“Aku sudah bilang, kau tidak bisa membunuhku!” kata Eleanor kemudian tertawa.

Eleanor menggerakkan tangannya. Castiel terhantam, berada di pohon oak ketiga. Di sebelah Dean. Cass masih sempat menjatuhkan pisau milik Ruby, pisau untuk membunuh Demon.

“Jake.. ambil itu.” Perintah Cass.

Jake sadar, pisau itu tidak jauh dari tempatnya. Dia berusaha meraihnya.

Eleanor maju, mematahkan tulang kaki Jake.

“Kau seharusnya menurut pada ibumu Jake.” Kata Eleanor tertawa, kemudian menuangkan darah dalam cawan ke dalam mulut Jake. Jake tersedak beberapa kali oleh darah yang di paksa masuk itu.
Dia masih sadar. Dia berusaha sekuat tenaga mengulurkan tangan, mengambil pisau itu, dan menghujamkannya tepat di jantung Eleanor. Eleanor berteriak kesakitan. Dia berjalan tertatih mundur. Dan akhrinya terbakar habis. Kemudian menghilang.

Jake merasakan sesuatu di kepalanya. Dia merasa seperti di lahirkan kembali. Dia merasa, seperti masih di dalam kandungan ibunya. Ibu kandungnya, Eleanor. Dia merasa tidak bisa bernapas. Bayangan ibunya melahirkan. Dia melihat dirinya di bawah ayahnya.

Dia tersedak lagi. Beberapa darah muncrat.

Ikatan tak kasat mata milik Dean, Sam dan Cass lepas sesaat setelah Eleanor musnah.

“Jake.” teriak Sam dan Dean.

“Dia mengalami transformasi. Kita harus membunuhnya.” kata Cass.

“Maksudmu?”

“Dia akan menjadi anak setan. Menggantikan Jesse.” kata Cass.

“Jangan lakukan itu.” Kata Dean menggeleng.

“Setidaknya itu akan menghilangkan sakitnya transformasi ini.” Kata Cass lagi.

“Biar aku saja.” Dean kemudian menggoreskan pisau Ruby dan membuat luka di lengan Jake.

“Tapi..” kata Cass pelan.

“Dengan begini, setidaknya, dia akan lumpuh. Toh, belum tentu nanti dia akan menjadi demon. Bila dia sangat ingin menjadi manusia.” Kata Sam berusaha meyakinkan Cass..

“Terserah.Kurasa, kalian harus segera pergi, polisi dalam perjalanan kemari.” Kata Cass kemudian menghilang.

“Maaf Jake.” Kata Sam.

*****

Jake membuka mata. Menghirup udara segar. Dia melihat seorang Sherriff mendekatinya, memborgol tangannya dan berkata, “Demon kecil.” Kemudian menggiring dirinya ke dalam mobil polisi.

Jake kaget sekaligus lega. Dia tetap manusia. Inilah pilihannya.

“God, do they think I killed them? The devil could not kill her baby so I have to blame because I was human. But maybe they are right. The path may not exist. Maybe it’s my imagination that helps me live with the horror I have done. Wake me from this nightmare. Please. Help me.” Itulah kata terakir yang di pikirkannya.

-END-

============

Silahkan kasih kritik dan saran. Dilayani via offline alias via sms.
hahahahha… ^.^

The Best Damn Thing


The Best Damn Thing

Summary : “Bagaimana bila seorang hunter kesayangan kita benar – benar memiliki seorang dibawah umur? Mengacau?
Merepotkan? Atau…. “

Rating : K+ / T

Genre : Multigenre ( drama, humor, action, supernatural )

Disclaimer : The sad news, I’m not Supernatural owner.

A/N :
1. Ide cerita diambil dari film ‘The Game Plan’ tapi aku revisi, perbaiki, dan aku sesuaikan dan aku buat versi aku sendiri dengan tema lain yang paling aku suka : Supernatural.
2. Ide kedua aku dapat pas liat Supernatural dan berkhayal sendiri, gimana jadinya bila seorang hunter memiliki seorang anak di bawah umur.
3. Maaf kalo sampe detik ini masih banyak typo / kesalahan pengetikan dan juga kesalahan imbuhan kalimat. *Termasuk pe-lebay-an kalimat yang tidak sesuai logika. Sebenarnya aku cuma ingin memakai Majas Personifikasi sama kayak buat puisi gitu bahasanya. hahahahaha *
4. Ini adalah Fanfiction Supernatural Multi-Chapter saya yang pertama.
5. Kalau misalnya cocok saya akan menggunakan judul2 lagunya Avril sebagai judul Chapternya. Huahahahahha…

=======================================

* Chapter I – How Does It Feel

Perlahan tapi pasti Sam memasukkan satu demi satu makaroni ke dalam panci. Kadang, terdengar bunyi makaroni yang tercebur keras ke dalam air. Pagi ini, Sam mendapat jatah untuk memasak makanan mereka. Mereka adalah, dirinya sendiri, dan juga para cacing – cacing kecil di perut kakaknya, Dean, yang tidak pernah berhenti makan. Hari ini Sam memilih membuatkan Sup Makaroni Ayam. Dengan memasukkan makaroni – makaroni kecil dan kering ke dalam panci berisi air yang telah dipanaskan.
Beberapa kali adukan, hingga air mengental dan makaroni melembek (tidak sekering awalnya) dan juga irisan daging ayam, Sup Makaroni Ayam siap di sajikan.

Sam meletakkan panci ke atas meja dengan sebuah alas piring di bawahnya. Asap panas masih mengepul dari atas permukaan panci. Sam mengaduk sup kental tersebut dan sesekali aroma harum dan lezat tercium ke segala penjuru ruangan. Setelah dirasanya semua telah siap, sup kental, beberapa croisant dan juga kopi yang tersedia di atas meja, Sam berjalan menuju letak kamar Dean.

Kepala Dean masih terbenam di bawah bantalnya dan selimut afghan tebal tersebut. Sam sebernarnya memang tidak pernah tega membangunkan Dean. Kenapa? Karena Dean selalu tertidur layaknya anak kecil. Matanya terpejam lembut, tanda dia memang sedang tertidur pulas. Belum lagi, bulu mata Dean yang lentik. Juga dengkur lembutnya saat tidur. Sejenak Sam berpikir, bagaimana bisa dia tidur seperti kakaknya, bila dia menjadi Dean? Well, Sam selalu berpikir, bagaimana Dean bisa menghadapi ini semua dengan perasaan seperti biasa saja.

Sam sadar, yang mereka hadapi kali ini bukan sembarangan kasus. Bukan kasus yang hanya dalam beberapa hari / minggu saja dapat terpecahkan. Kasus kali ini, bisa membuat keputusan mutlak bagi manusia lain. Mereka harus dihadapkan pada semua kenyataan dan fakta bahwa : This is the dead end. Semua kenyataan dan fakta bahwa sebentar lagi mereka akan menghadapi Apocalypse, akhir zaman, akhir dunia, akhir dari segala kehidupan.

Tapi sempat Sam berpikir, jauh dari dalam dirinya, dia ingin sekali menyerukan hal ini kepada semuanya, “Mengapa semua tanggung jawab ini diserahkan pada kita?”

Tidak salah memang, semua keputusan tentang Apocalypse memang ada di tangan dirinya dan juga Dean. Dimana dirinya diharuskan berkata ‘ya’ pada Lucifer, dan kakaknya, Dean juga diharuskan berkata ‘ya’ pada sang Archangel, Michael. Tapi bila dirinya dan Dean berkata demikian, Apocalypse akan benar terjadi, dan sangat hebat kejadiannya.

Disitulah poin dari semua ini, Sam merasa ingin sekali menjadi kakaknya, yang memang bisa terlihat lebih tegar dari makhluk ciptaanNya. Sam tahu betul, sebenarnya, dibalik semua ketegaran Dean, kakaknya itu masih memiliki sisi kekanakannya. Takut akan Apocalypse, takut akan mati, dan juga neraka, perasaan sedih, kecewa akan kematian kedua orang tuanya, dan juga tentunya, rasa kesal akan Sam. Dirinya telah tidak percaya pada Ruby, daripada kakaknya sendiri, yang malah membuat dirinya merusak seal ke 66 dan membuka gerbang dan jalan satu – satunya Lucifer keluar dan membawa dunia lebih cepat pada Apocalypse.

Di sisi itulah, Sam benar – benar ingin sekali menjadi diri kakaknya. Bisa menyembunyikan semua kegalauan hatinya. Dean terlihat sangat kuat, hampir tanpa khawatir yang tampak, hanya ketegaran, menghadapi semua. Seperti menjelang kematiannya sendiri di bawah gigitan hellhounds, anjing neraka. Atau menghadapi nightmare nya sendiri akan pengalaman hidupnya beberapa bulan di tempat terbawah, neraka. Atau, saat Dean sangat tegar dan mengatakan, “Itu bukan salahmu, Sam”
tiap kali Sam menyalahkan diri akan Apocalypse.

Nyatanya, Dean masih saja bisa ber-akting biasa saja, tidur dengan pulas, makan dengan lahap, menikmati dan menyanyikan tiap bait lagu Rock kesukaannya, bercanda dengan dirinya dan juga Cas, malaikat yang sangat setia pada Dean.
Sam terkadang heran, apa arti semua ini bagi Dean? Bagaimana dia bisa melewati hari dengan santai, dimana setiap senja malam berganti dengan matahari pagi, berarti berkurangnya jatah hidup manusia di Bumi ini dan menghantarkan manusia ke depan pintu gerbang Apocalypse.

Sam masih melamun dalam dirinya, dengan semua teori – teori nya dan jutaan pertanyaan logis lainnya dalam otaknya, saat Dean tiba – tiba saja bergerak dari tidur pulasnya mirip anak kecil. Namun, saat Dean benar – benar membuka matanya dan untuk pertama kalinya di hari ini, menatap langit – langit kamar, Sam masih saja menatap Dean yang sebenarnya sedang melamun.

“Dude, jangan menatapku seperti itu, please. Lihat, kau membuatku berkeringat.” kata Dean sambil memberikan tinjuan kecil di lengan Sam, dan berakhirlah sudah semua lamunan Sam.

“Erh, aku tidak. Aku hanya berpikir bagaimana kau bisa tidur seperti seekor babi.” balas Sam. Dia sama sekali tidak ingin Dean tahu kalau dirinya menyimpan sejuta pemikiran yang justru akan membuat Dean semakin terpuruk memikirkannya.

Dean menggunakan hidungnya pertama kali untuk mencium aroma lezat sesuatu yang sudah dinanti oleh cacing dalam perutnya.

“Ow, aku membuat Sup Makaroni Ayam. Aku tunggu di meja makan.” kata Sam sadar saat melihat hidung Dean yang mengendus bau – bauan masakannya.

“Baiklah. Aku gosok gigi dulu. Aku harap kau tidak lupa pie – nya.” kata Dean dan menatap Sam. Kemudian Sam hanya mengernyitkan dahinya, menatap Dean dengan wajah puppy eyes nya.

“Hey, kau kan sudah janji padaku. Mana pie ku?”

“Maaf. Besok saja aku belikan. Janji.” kata Sam pada Dean lalu meninggalkan Dean yang berjalan ke arah kamar mandi.

==============================
Dean keluar dari kamarnya, saat Sam baru saja meletakkan mangkuk sup di depan piring.
“Keburu dingin.”

Dean baru saja akan duduk di kursinya, namun bel pintu sudah meraung. Dean melirik jam tangannya dengan wajah sebal.
Ini baru saja pukul sepuluh siang, siapa yang datang? Bobby? Tidak mungkin, mana mungkin Bobby yang dengan kursi rodanya bisa menekan bel pintu setinggi itu. Atau Cas? Malaikat pribadinya? Dean memutar bola matanya, bila Cas menekan bel pintu sebelum masuk, dia berjanji akan ikut naik pesawat ke mana pun Sam mau. Tentu saja, mana mungkin Cas! Cas biasanya selalu datang dan pergi tanpa suara. Mana mungkin kali ini Cas bersopan dengan menekan bel pintu.
Dean berjalan membuka pintu, setelah Sam memberi isyarat bahwa Dean yang membuka pintu dan Sam akan mencuri dengar dari ruang makan saja.
Dean membuka pintu dari motel yang telah di sewanya itu.

——— tunggu chapter berikutnya ya.. ———
=stephElvCWZ=

Mohon komen nya ya.. thanks ^^

One Day in Your Life

ONE DAY IN YOUR LIFE

INI ADALAH HASIL DARI KAPAN HARI YANG AKU MINTA DATA DARI KALIAN SOAL SUPERNATURAL DAN TWILIGHT.
ENJOY IT.

=================================================================
ONE DAY IN YOUR LIFE

Rating = K+

Genre = Humor, Drama

DISCLAIMER = NEVER OWN SUPERNATURAL. OTHER CHARACTER EXCEPT DEAN, SAM, AND CASTIEL ARE MINE. AND NEVER OWN TWILIGHT. EXCEPT TWILIGHT AND SUPERNATURAL CHARACTER, THERE ARE MINE.

A/N =
1. FF ini di dedikasi untuk Dean Winchester yang besok sudah mau tambah tua aja..wkwkwkw
2. Juga di dedikasikan buat WinFam. Winchester Family, sebuah community di Facebook yang menyuguhkan pelatihan kemampuan berimajinasi sangat tinggi. Jujur saja, I LOVE WINFAM.. THIS IS THE PLACE FOR EVERYWHO LOVES SUPERNATURAL AND CAN USE THEIR IMAGINATION FOR IMAGINATIVE STORY.. halah, apaan toh..
wkwkwkwkkw
3. Maaf ya kalo jelek. Soalnya baru buat jam 4 sore ini. wkwkwkwkw.
4. Maap juga kalo misalnya ending kurang seperti yang di harapkan, dan banyak cerita ngawur. Nama aja imajinasi. *niruin spongebob. Diatas kepala Steph keluar deh pelangi nya*
wkwkwk

PS: ini termasuk jenis crossover bukan ya????
=================================================================

Meski sudah jam sebelas malam, Dean masih belum saja tenggelam dalam selimutnya. Tubuhnya memang terkulai lemas, bahunya terasa berat, punggungnya terasa kaku. Dan memang sebenarnya, kelopak matanya pun sudah memaksanya untuk menyelimuti bola matanya. Namun hanya karena sebuah pikiran reality hidupnya yang memaksanya juga untuk tetap membuka mata.

Sehabis memburu beberapa vampires di daerah Forks, membuat dia dan Sam kehilangan mood untuk tetap terjaga di malam hari. Lebih tepatnya, perburuan yang menjengkelkan dengan akhir buruk bahwa beberapa vampires di Forks memang telah membuat kesepakatan dengan kawanan werewolfs setempat untuk tidak berburu manusia dan memilih berburu hewan, bahkan hanya menggigit manusia akan merusak kesepakatan mereka yang berakhir pada perang dunia ketiga, perang antara werewolfs dan vampires. Si werewolfs akan mengusir si vampires agar tidak membuat tempat tinggal permanen di daerah itu, meskipun sebenarnya, si werewolfs berada di La Push yang hanya berbatas pantai saja dengan si vampires. *meskipun terdengar konyol memang, batin Dean, masa kawanan werewolf dan vampires memilih genjatan senjata dengan silsilah panjang perjalanan cinta anggotanya yang sukses membuat mengantuk. Bagi Dean werewolf harus musuh vampires, dan mereka saling membunuh.* Tapi itu membuat Dean dan Sam ingin sekali segera naik ke tempat tidur.

Namun, bagi Dean malam ini, bukanlah malam yang biasa saja. Malam ini penuh arti sebenarnya. Bagi dirinya, dan kehidupannya. Dan pikiran itu rupanya masih mengganjal dalam otaknya. Bahkan, dirinya sendiri masih berpikir, apakah hal itu membuat dia tampak kekanakan? Tapi nyatanya, pikiran ini sukses membuatnya membuka mata untuk sekian waktu.

Dean menoleh ke sampingnya. Adiknya, tak lain tak bukan, Sam Winchester, atau “sammy” kecilnya, sudah meringkuk dalam selimutnya. Sam telah terlelap di balik selimut tebal nan empuk itu. Menilik ini masih di bulan Januari, dan juga merupakan curah hujan salju terbesarnya, rupanya Forks, kota berpopulasi 3120 orang itu mirip sekali dengan kota Bogor yang berada di Indonesia dengan curah hujan tertingginya, yang menyebabkan Forks begitu sangat dingin di musim salju di bulan Januari, yang merupakan bulan puncak musim salju terdingin.

Sam masih asik dalam balutan selimutnya, matanya terkatup rapat, dengan kepala bertumpu di tangan kanannya. Dean pun masih menatap Sam yang terlelap bersama kaus tebal nya berwarna abu – abu itu, yang masih terlelap seperti bayi berukuran besar. Sam memang selalu terlelap dalam tidurnya, pikir Dean.

Sam kecil dan Sam besar, rupanya memang tak jauh berbeda. Begitu cepat ya Sam telah bertumbuh,pikir Dean lagi. Rupanya memang, malam ini semua saraf otak Dean dipaksa untuk berpikir. Ya, Sam kecil dan Sam besar memang tidak jauh berbeda, baik selera dalam apapun, ketekunannya, serta cara tidur dan perilakunya. Mungkin yang sedikit mencolok dari perubahan Sam hanya pada tingginya. Saat Sam mencapai masa akil balig nya, Sam benar – benar mengalahi Dean dalam ukuran tinggi.

Secara sadar, Dean menghitung, bahwa telah lama dia menjaga Sam semenjak dirinya berusia empat setengah tahun. Dan dia sudah setua itu untuk menjaga Sam. Apa dengan usianya yang kian bertambah dia akan selalu bisa menjaga Sam? Dari para Demon, dan dari apapun?

Dean juga sadar, mempermainkan kematian tiga kali, cukup riskan untuk meninggalkan Sam. Tapi, dia tidak mau meninggalkan sammy kecilnya. Meski perbedaan usia diantara mereka yang cuma terpaut empat tahun itu, tapi tetap terlihat sangat jauh di mata Dean.

***
Jam di Forks sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Mata Dean belum juga terkatup. Entah efek black coffee yang terlalu banyak ia minum di sore harinya setelah dia bukan menghadapi perburuan seru dengan werewolf dan vampires yang malah berakhir dengan kisah drama romantis dan penuh konflik antara keduanya, yang mana membuat Dean stress.

Dean pun sekarang sudah tidak membaringkan dirinya ke sebuah bantal di atas tempat tidur. Sekarang dia sudah duduk, kakinya merapat di lantai. Bisa dia rasakan dinginya lantai. Dean berjalan menilik jendela, volume salju memang sudah berkurang, tapi cuaca masih bisa dipastikan sedang dingin.

Entah apa jadinya pada pukul dua sampai tiga pagi pikirnya. Memang, pada jam segitu, adalah jam terdingin dan suhu terminimal di seluruh Dunia. Bahkan Indonesia pun seperti itu.

Dean kemudian menuju ke kulkas nya. Dimana surga makanannya. Tapi kali ini dia malah membuka sekaleng beer. Pikirannya benar – benar pelik. Menenggak susu coklat di malam hari penangkal dingin bukanlah type dirinya. Dean sekarang menatap jam. Entah baginya jam terasa cepat berlalu atau terlalu lambat berlalu.

“Jam dua belas kurang lima belas menit.” kata Dean kecil. Siapa yang diajak bicara tidak tahu. Lima belas menit dari sekarang hari sudah berganti, teriak Dean dalam hatinya. Itulah masalahnya dari tadi. Masalah yang selalu dianggapnya terlalu kekanak’an.

Dean ingin sekali berteriak di keheningan malam. Mengapa hari ini berjalan biasa saja! Hari ini tanggal 23 Januari!! Mengapa sampai malam begini, hape-nya belum berbunyi sekalipun. Apa semua orang lupa??? BESOK, LIMA BELAS MENIT LAGI TEPATNYA, ADALAH HARI ULANG TAHUNNYA!

Mengapa sampai detik ini belum ada satu ucapan ulang tahun yang muncul dalam hape-nya. Sekarang kurang sepuluh menit lagi, Dean akan segera mencapai umur 31 tahun. Meski nyata baginya, di usia akan 31 tahun itu, merengek – rengek menanti hadiah/kado ataupun ucapan selamat ulang tahun bukan sesuatu yang dewasa. Terlalu childish.

Tapi, itu lain di hati kecilnya. Hati kecilnya sangat menginginkan semua itu. Semua yang tak pernah ia dapatkan semasa kecilnya. Balon – balon warna warni, hadiah untuknya yang berbalut kertas kardo nan indah, kue ulang tahun, pinata besar berisi coklat, permen, stiker, mainan kecil, manisan, dan lainnya.

Tapi, bahkan Sam tertidur. Sudahkah ia menyiapkan kado ku? Sudahkah ia membuat acara surprise untukku? Atau Apakah dia membuat surprise birthday party untukku? Tapi,hari ini Sam biasa saja. Seperti kemaren, maupun bulan sebelumnya. Ya Sam itu. Bukan Sam yang menyiapkan acara ulang tahunnya dengan penuh rahasia.

Dan, Castiel? Mana Angel yang bersamanya setahun belakangan? Mana Angel kesayangannya? Yang sama lucunya dengan adiknya, tetapi lebih polos dari adiknya, lebih polos dari remaja. Apakah Castiel akan datang dengan tiba – tiba seperti biasa dan datang tengah malam hanya untuk mengatakan, “Dean, selamat hari jadi.” dengan wajah polosnya tentu saja? Apa Castiel dan Sam membuat surprise party untuknya? Atau? Mereka semua melupakan hari ini ULANG TAHUN DEAN, karena terlalu sibuk dengan perburuan lainnya?

Dia ingin sekali, seandainya memang bisa terjadi, semua orang mengucapkan, “HAPPY BIRTHDAY, MY BELOVED DEAN.” Pikiran anak kecilkah itu? Atau itu memang perwakilan perasaannya sekarang. Bahkan dia sudah memimpikan hari ini hari special, hari penuh kejutan. Dia bahkan membayangkan, tepat pukul dua belas malam, akan ada kembang api besar, dimana dia di lingkari gadis – gadis sexy membawakannya kado, dan menyuapinya makanan lezat. Serta, Sam dan Castiel yang diajaknya berpesta ria, dan mengajari Castiel sekali lagi untuk menikmati wanita. Dan Dean pun tertawa terbahak – bahak kemudian, mengingat betapa konyolnya harapannya itu.

Tapi itu kenyataan. Sejak kecil jarang sekali Dean merasakan acara ulang tahunnya. Mungkin sedekade sekali. Entah. Bahkan sweet seventeen yang seharusnya meriah dan menyenangkan harus ia nikmati sendiri. Ibu nya telah lama tiada. John, ayahnya tetap sibuk berburu sesuatu, sesuatu yang membunuh Ibunya. Sam? Dia sibuk dengan SMP barunya. Dean? Dean terpaksa menikmati sweet seventeennya di sebuah bar, dengan segelas cocktail, dan beberapa gelas beer, di temani gadis malam dari Night Club.

***
“Bagus, sekarang jam dua belas tepat!” umpat Dean. Kenapa? Karena tidak ada satupun yang berubah sejak semenit lalu. Semua hening, terlelap dalam gelap dan dinginnya malam.

Bahkan kesunyian hanya pecah karena sebuah bunyi dentang dari hapenya saja. Bukan tanda peringatan ada SMS, malah karena alarm bodoh yang dia buat sejak sebulan lalu. 00:00 am. MY BIRTHDAY.

Tidak lama, sebuah ketukan pintu membuatnya nyaris terjatuh dari kursinya, dan kehilangan keseimbangannya.

Dean, membuka pintu kayu itu.

Hening.

Jantung Dean berdebar, jangan – jangan demon. Tapi segera pernyataan itu disanggahnya, memangnya Demon sekarang sudah beretika, sehingga mengetuk pintu sebelum masuk?

Dan pintu pun terbuka lebar.

“HAPPY BIRTHDAY DEAN!!!!” belasan orang asing yang tak pernah di kenal Dean sebelumnya sudah berdiri, tepat di depan matanya. Mereka semua, berpaiakan tidur, pajamas atau piyama tepatnya. Bisa di tengok dari motif pakaian yang mereka kenakan, ada yang bermotif panda, ada yang bermotif beruang teddy, kucing, ya semua tipe piyama yang beredar di Indonesia.

“SI…SII…SIAPA KALIAN?” Dean bertanya kaget.

Yang ditanya malah melongo. Beberapa malah ngiler melihat keseksian dan ke-hot-an tubuh Dean Winchester yang mengenakan kaus berwana hijau dan celana training hitam itu. Dimana, semua percaya, dibalik kausnya, terdapat dada bidang, serta perut six pack nya. Dan semua yang ditanya menunjukkan muka mupeng-nya.

“Well, mereka…. mereka adalah.. fans – fans mu.” kata Castiel tiba – tiba. Dia dengan susah payah keluar dari gerombolan orang – orang itu, dengan pakaian terkoyak tidak jelas.

“Wow, Cas, apa yang terjadi padamu?”

“Begini, ini bermula dari tadi pagi, secara terkejut, aku bisa mendengarkan doa – doa mereka. Padahal mereka bertempat jauh sekali dari Forks. Kau tahu, tiba – tiba saja, seperti mendapat kekuatan dari Tuhan, aku bisa ke suatu tempat, hijau, seperti padang, dengan suatu kebetulan, aku melihat para gadis ini berdoa, memohon kedatanganku.” kata Castiel.

“Wow, seperti di film Bruce Almighty.” lalu Dean tertawa terbahak. Castiel hanya memiringkan kepalanya, menunjukkan kepolosannya. Dan Dean terpakasa berhenti tertawa, kemudian, berkata, “lanjutkan Cas.”

“Baiklah. Kemudian, mata mereka terbuka, mereka semua ini terkumpul di padang yang sama denganku. Begitu mata mereka terbuka mereka menyerbuku seperti melihat koin emas. Entahlah mengapa, aku akhirnya menenangkan mereka dengan berkata bahwa aku akan mengabulkan satu permintaan dari mereka.”

“Dan permintaan itu adalah?”

“Mereka minta di teleportasikan ke sini. Ke tempat mu berada. Mereka meminta agar aku mempertemukan mereka denganmu, dimana kamu berada. Dan aku bawa ke Forks. Mereka janji hanya akan pergi selama sehari di sini. Jadi aku segera meneleportasi mereka ke Forks. Tapi begitu sampai mereka jadi liar.”

“Maksudnya jadi liar?” ganti Dean yang tidak connect.

“Yeah, seakan mereka sudah pernah melihat gambaran Forks saja. Mereka seperti pernah kesini sebelumnya, atau seperti pernah melihat cuplikan film tentang Forks saja. Astaga, butuh seharian untuk mengejar mereka. Kau tahu, mereka menuju rumah minimalis di dalam hutan.”

“Rumah Keluarga Cullen?” terka Dean.

“Entalah, rumah itu berisi 9 vampire. Delapan dewasa, dan berpasangan. Serta anak perempuan setengah vampire setengah manusia yang seperti dijaga ketat oleh serigala.”

“Hey, itu namanya imprint. Hanya bisa di lakukan oleh para vampire.” sergah salah seorang dari para gadis itu, yang lebih tepatnya bernama Sari dan Ladyta.

“Diamlah. Please, kalian kan sudah janji tidak berbuat onar. Biar aku jelaskan pada Dean.” kata Castiel berusaha menenangkan 16 gadis.

“Bisakah kalian menjaga ketenangan sebentar, er, paling tidak agar tetangga tidak bangun dan melempari kalian dengan air dingin.” kata Dean sambil ketawa. Entah bagaimana, sihir apa yang terjadi, gadis – gadis itu langsung diam. Aah, Dean, memang selalu bisa merayu wanita.

“Kau memang pandai merayu Dean.” kata seorang gadis lagi bernama Putri.

“Lanjutkan.” kata Dean. Beberapa gadis terkikik mengingat kata itu seperti slogan dalam salah satu pemilu di Indonesia untuk pemilu cawapres dan capres Indonesia.

“Yeah, kau tahu mereka lari kerumah itu. Dan menyerbu pemilik rumahnya.”

“Tapi, akupun dari sana.”

“Mungkin setelah kau pulang Dean.” kata seorang lagi bernama Icha.

“Yeah, kau tahu, kebanyakan dari mereka menyerbu laki – laki yang berambut tembaga, hampir merah, berkulit dingin seperti marmer itu. Mereka sudah kuperingati soal vampire yang memburu manusia. Tapi semuanya menyanggah dengan berkata, keluarga cullen tidak makan darah manusia. Mereka vegetarian. Ya sudah. Aku biarkan. Si laki – laki berambut tembaga itu kelimpungan, pasangan dari vampire laki – laki ini hanya bisa geleng – geleng kepala tatkala beberapa gadis menyerang vampire itu. “
“ITU EDWARD!” teriakan kecil keluar dari mulut Lizzy, Riny, Titi, Icha, Flo, Listya, Lady, Indah dan Linda hampir bersamaan. Castiel kaget.

“Lalu, beberapa lain mengeromboli si vampire, ayah dari vampire laki – laki bernama Edward tadi.”

“dr. Carlisle Cullen.” teriak dua gadis dari gerombolan itu, Steph dan Jihan. Lagi, lagi, Castiel kaget dan kemudian memutar bola matanya.

“Lalu, satu orang menggerombolin seorang vampire pendiam, berambut panjang, ikal, dan pirang.”

“Dia Jasper Hale. Jasper Cullen, atau Jasper Whitlock dulunya.” kata seorang gadis bernama Endah.

“Entahlah, kemudian, dua orang dari mereka menggeromboli sang serigala. dan keduanya terpaksa mereka harus diompolin balita perempuan itu, yang selalu dijaga sang serigala.”

“Serigala itu aslinya manusia, namanya Jacob Black. Sang Alfa dari keturunan werewolf. Tapi, akhirnya dia adalah shapeshiffter.” terang dari gadis bernama Etha atau Reisa itu.

“Betul, dan gadis itu setengah vampire setengah manusia, anak dari Bella saat menjadi manusia dan Edward Cullen. Dia terimprint Jacob Black alias Jake, balita itu bernama Renesmee.” jawab gadis lain bernama Fiona.

“Bisakah kalian diam, biarkan aku bercerita.” kata Castiel pada para gadis.

“Kemudian, seorang mendekati si vampire bertubuh tegap. Berambut hitam ikal, dan terpaksa mendapat tatapan tajam dari si pasangan vampire itu.”

“Namanya Emmett Cullen, si beruang grizzly. Dan pasangannya yang bertampang cantik tapi punya tatapan sadis itu Rosalie Cullen, atau Rosalie Hale dulunya.” sergah gadis bernama Octa itu.

“Entahlah, kemudian satu gadis mendekati gadis lain. Seorang gadis vampire berambut hitam. Pasanganan dari si Jasper itu.”

“Alice Cullen. Dia bisa melihat masa depan! Sangat hebat. Lebih hebat bahkan dari Special Kids nya Yellow Eyes Demon.” kata Sari menatap Castiel.

“Yeah, si Edward pun bisa membaca pikiran.” kata Lizzy, Riny, Titi, Icha, Flo, Listya, Lady, Indah dan Linda hampir bersamaan lagi.

“Dan si Jasper bisa mengontrol perasaan.” kata si Endah.

“Tapi, hanya gadis ini yang diam saja. Tidak menyerbu para vampire laki – laki itu.” kata Castiel menunjuk gadis lain. Itulah si Putri tadi alias si Pujuw.

“Tentu saja, kan aku setia sama kamu Dean.” kata Pujuw tertawa kecil. Kemudian para gadis seperti Steph, Lizzy, Titi, Etha, Endah, Flo, Lady, Sari, Icha dan Riny, seakan mengingatkan si Pujuw kalau dia sudah punya Jensen. Bahkan Dean dan Castiel bingung apa maksudnya. DAn gadis – gadis itu kemudian terkikik.

“Lalu bajumu kenapa Cas?” tanya Dean.

“Mereka, gadis – gadis itu merengek meminta segera bertemu kamu setelah keluar dari keluarga Cullen. Dan aku tercabik – cabik seperti ini.” kata Castiel.

Dean dan keenam belas gadis itu tertawa terpingkal.

“LEBAY!” sergah 16 gadis itu. Dean dan Castiel bengong. 16 gadis itu malah ber-LOL ria.

“So, kalian disini untuk?” tanya Dean pada gadis – gadis itu.

“Merayakan ulang tahunmu Dean. Kami semua membawakan hadiah untukmu.” kata Steph yang maju melewati Castiel yang merentangkan tangan tanda dilarang masuk di depan pintu. Castiel dari tadi layaknya polisi anti demonstran. Sesaat mata Dean jadi hijau mendengar kata hadiah. Tapi, bukannya mata Dean memang hijau?

“Terima kasih kalian, semua.”

“Hey, ada apa sih rame – rame?” tanya Sam dengan mata ngantuk, menggosok mata dengan telapak tangannya. Sam terganggu tidurnya. Kemudian, dua gadis, Titi dan Fiona langsung memeluk Sam.

“Aaaah, Sam… Kau memang tampan sekali..” kata Titi.

“Samuel Winchester… Aduh, gak nyangka.” kata Fiona langsung mendekap erat Sam diiringi dekapan dari Titi.

Tiba – tiba 14 gadis lain mendekap Dean dan menjatuhkan Castiel hampir penyet terinjak kesadisan para gadis itu.

***
Akhirnya Dean melewati ulang tahunnya ke 31 dengan ramai. Castiel yang memar sekujur badan akibat ke atractive’an 16 gadis itu. Dean dan Sam terpaksa harus berpose manis dan narsis, saat para gadis – gadis itu meminta foto bersama dan tanda tangan. Dan Castiel hanya melongo. Lalu ketika Steph dan Fiona menarik Castiel untuk berfoto lewat kamera yang berada di atas tripod, hasillah foto para fans Dean dan Sam, bersama 16 gadis itu, dan Castiel yang memiringkan kepalanya tanda bingung.

Inilah malam terbahagia Dean. Mendapati dirinya mendapat sebegitu banyak hadiah nan rupawan dari para gadis. Dan hanya satu gadis yang sukses mendapat ciuman dari Dean ke pipi Steph. *mupeng* Setelah itu semua gadis berangsur – angsur meminta Dean memberikan ciuman serupa. Namun, rupanya hanya Steph seorang yang beruntung mendapat ciuman dari Dean meski hanya di pipi saja.

Dan nggak lupa juga, 16 gadis itu memaksa meminta nomer hape Dean dan Sam, supaya mereka bisa bertemu lagi lain waktu.

***
Seminggu kemudian.

“Sam, bisa berhenti di pom bensin itu sebentar?”

“Ada apa? Kau ingin buang air lagi Dean? Makanya jangan makan pie ayam itu terus.”

“Bukan, aku hanya ingin beli pulsa untuk hape-ku.”

“Bukannya, kemaren kau sudah beli pulsa?”

“Rupanya fans – fans ku sangat heboh. Aku sudah berSMS ria dengan mereka semua sejak semalam. Dan mereka mengusulkan aku menggunakan facebook. Aku sudah ber-chat dengan mereka, lebih tepatnya. Sangat menguras pulsa. Kemudian aku berganti ke Yahoo!Messenger. Kau tahu Sam, disana ada fasilitas confrence. Aku bisa ber chat ria dengan mereka semalam suntuk. Untung mereka punya rasa kantuk, sehingga aku bisa tidur barang sejam dua jam. Punya fans itu asik juga ya.” kata Dean berpanjang lebar sementara Sam fokus ke hapenya.

“Dude, kau dengar aku kan tadi?” tanya Dean.

“Tentu saja.”

“Memang nya kau ngapain?”

“Aku mengerim email pada Fiona dan Titi. Fans ku juga.”

Kemudian Dean dan Sam pun tertawa terbahak – bahak dalam Impala mereka.

=END=

PS: SARAN DAN KRITIK SIAP DITERIMA.
KOMENTAR SANGAT DI HARAPKAN.
^^V.

**********
IT’S DEDICATED FOR DEAN WINCHESTER THIRTY FIRST BIRTHDAY…
WISH YOU ALL THE BEST…
LOVE YOU DEAN WINCHESTER…
<3 <3